103 Siswa Diduga Keracunan:Makanan Diuji Penyebab Dicari
SEBANYAK 103 siswa SMPN 2 Cisarua diduga keracunan MBG. Pemkab Bogor menguji sampel makanan dan minuman untuk memastikan penyebabnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Reza Zurifwan
Rasa mual, pusing, hingga muntah-muntah membuat 103 siswa SMPN 2 Cisarua harus mendapatkan penanganan medis setelah terindikasi mengalami keracunan makanan.
Dugaan kejadian itu muncul setelah mereka mengonsumsi makanan atau minuman dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah Kabupaten Bogor kini berupaya memastikan kondisi para siswa pulih sekaligus menelusuri penyebab kejadian. Sebanyak 103 siswa tersebut berasal dari total 881 siswa SMPN 2 Cisarua.
Bupati Bogor Rudy Susmanto meninjau langsung Rumah Sakit Paru (RSPG) Cisarua, Rabu (21/10), untuk memastikan para siswa memperoleh penanganan medis secara optimal. Pemerintah daerah juga memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemkab Bogor sehingga orang tua tidak perlu menanggung biaya perawatan.
“Keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi prioritas kami. Kami memastikan mereka mendapatkan penanganan medis terbaik dan tercepat, dengan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemerintah Kabupaten Bogor,” ujar Rudy.
Berdasarkan hasil pemantauan, Rudy menyebut kondisi seluruh siswa telah stabil dan membaik. Sebagian besar direncanakan dapat pulang setelah menjalani observasi dan dinyatakan layak oleh tim medis.
“Total ada 103 siswa-siswi SMPN 2 Cisarua yang diduga menjadi korban keracunan MBG, rata-rata saat ini kondisinya mulai membaik atau stabil,” terang Rudy.
Siswa yang mengalami gejala mual, pusing, dan muntah-muntah mendapatkan perawatan serta observasi tenaga kesehatan. Setelah dinyatakan sehat, mereka akan dipulangkan ke rumah masing-masing.
Di tengah pemulihan para siswa, pemerintah daerah juga berupaya mencari tahu penyebab kejadian. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah mengambil sampel makanan dan minuman untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) milik Pemkab Bogor.
Rudy menegaskan, kesimpulan mengenai penyebab kejadian baru akan disampaikan setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Karena itu, ia mengimbau semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab sebelum hasil pengujian tersedia.
Sementara pemeriksaan berlangsung, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang selama 20 hari ke depan.
Pemkab Bogor juga mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di SMPN 2 Cisarua. Pemerintah mempertimbangkan kemungkinan meliburkan sementara siswa atau menerapkan pembelajaran jarak jauh sembari melihat perkembangan situasi.
“Proses belajar mengajar akan kami evaluasi, bisa diliburkan atau melalui pembelajaran jarak jauh atau online,” kata Rudy kepada wartawan, Rabu (21/10). (gin)
Editor : Inilahkoran
