1.900 Warga Meninggal di Jalan Raya, Polda Jabar Serukan Revolusi Tertib Lalu Lintas

Polda Jabar menegaskan bahwa kepatuhan berlalu lintas bukan sekadar aturan, melainkan cerminan budaya bangsa yang beradab. 

1.900 Warga Meninggal di Jalan Raya, Polda Jabar Serukan Revolusi Tertib Lalu Lintas
Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan saat membuka Operasi Zebra Lodaya 2025, Senin 17 November 2025. (cesar yudistira)

INILAHKORAN, Bandung - Polda Jabar menegaskan bahwa kepatuhan berlalu lintas bukan sekadar aturan, melainkan cerminan budaya bangsa yang beradab. 

Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan saat membuka Operasi Zebra Lodaya 2025, Senin 17 November 2025.

Dalam pernyataannya, Hendra menegaskan operasi ini digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tertib berlalu lintas. 

“Ingat, tertib berlalu lintas adalah cerminan budaya bangsa yang beradab. Tujuannya untuk mengurangi pelanggaran dan juga menurunkan laka lantas,” katanya.

Operasi Zebra Lodaya 2025 melibatkan seluruh jajaran Polres dan sejumlah stakeholder terkait. Fokus utamanya adalah menekan angka kecelakaan lalu lintas yang masih tinggi di Jawa Barat.

Hendra menyebut meski ada tren penurunan angka kecelakaan, jumlah korban jiwa masih tergolong tinggi. Data tahun 2024 menunjukkan 9.050 kasus kecelakaan dengan 3.451 korban meninggal dunia serta kerugian materi lebih dari Rp22 miliar. 

Pada 2025, angka kejadian turun menjadi 7.787 kasus, namun korban jiwa masih mencapai 1.936 orang dengan kerugian material di atas Rp21 miliar.

“Yang banyak menimbulkan korban jiwa saat ini adalah laka lantas. Angka 1.900 lebih itu bukan sedikit,” tegasnya. Ia menekankan bahwa statistik tersebut hanya berasal dari wilayah Jawa Barat, menggambarkan betapa pentingnya operasi penertiban ini.

Operasi Zebra Lodaya tahun ini mengusung tema aman, nyaman, dan berkeselamatan. Operasi ini juga menjadi persiapan menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat selama perayaan Natal dan Tahun Baru.

Hendra memahami bahwa operasi lalu lintas seringkali menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Karena itu, ia meminta publik memandang kehadiran polisi dan para pemangku kepentingan di jalan sebagai bentuk kepedulian.

“Kehadiran kepolisian di lapangan bukan untuk menimbulkan rasa benci, tetapi rasa bersyukur. Bahwa kehadiran mereka adalah untuk mengingatkan, untuk memberikan dampak keselamatan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar masyarakat memiliki 'kedekatan kebatinan' dengan misi Polri dalam menekan angka kecelakaan. 

“Tujuannya hanya satu, agar tidak terjadi korban yang lebih banyak lagi,” kata Hendra.


Editor : Doni Ramdhani