Atasi Limpasan Air Hujan, Bandung Perkuat Drainase dan Resapan
DSDABM Kota Bandung membangun sekitar 1.300 sumur imbuhan dalam serta memperkuat drainase, kolam retensi, sumur biopori, dan penghijauan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung mengandalkan berbagai strategi untuk mengurangi limpasan air hujan dan risiko Banjir. Upaya tersebut dilakukan melalui normalisasi Drainase, pembangunan Sumur Imbuhan dalam, sumur biopori, kolam retensi, serta penghijauan lahan kritis.
Kepala DSDABM Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi, mengatakan berbagai langkah tersebut dilakukan secara berkelanjutan sejak awal tahun, termasuk selama musim kemarau. Penanganan tidak hanya berfokus pada kelancaran aliran air, tetapi juga pada peningkatan daya serap tanah dan penyediaan tempat penampungan air hujan.
“Dari awal tahun, pekerjaan kita itu fungsinya untuk menormalisasi drainase, membangun kolam retensi, membuat sumur imbuhan dalam, sumur biopori dan berbagai upaya lainnya. Intinya untuk mengurangi limpasan air,” kata Rizki, Rabu (14/10/2026).
Hingga Oktober 2026, pembangunan sumur imbuhan dalam di Kota Bandung telah mencapai sekitar 1.300 unit yang tersebar di berbagai lokasi. Sarana tersebut berfungsi membantu meningkatkan peresapan air ke dalam tanah sehingga volume limpasan di permukaan dapat dikurangi.
Selain memperbanyak sarana resapan, penghijauan menjadi bagian dari strategi pengendalian limpasan air hujan. Penanaman pohon berakar kuat dilakukan di lahan kritis untuk meningkatkan penyerapan air sekaligus mengurangi erosi dan material tanah yang dapat memicu sedimentasi.
“Kalau lahan kritis terkena hujan, air dan tanah bisa melimpas. Itu yang menyebabkan sedimentasi. Makanya kita perkuat dengan tanaman-tanaman yang berakar kuat, sehingga air bisa lebih banyak meresap ke dalam tanah,” ucapnya.
Setelah melakukan penghijauan di wilayah Cihanja, DSDABM merencanakan penanaman pohon lanjutan di kawasan Pasirwangi dan Ujungberung. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan fungsi resapan air, terutama di kawasan yang membutuhkan pemulihan tutupan vegetasi.
Rizki menjelaskan, pengelolaan air di Kota Bandung memiliki tantangan tersendiri karena kondisi geografisnya menyerupai cekungan. Air dari kawasan yang lebih tinggi dapat mengalir ke wilayah kota, sementara kepadatan permukiman di sejumlah titik turut memengaruhi ketersediaan lahan resapan dan kapasitas drainase.
Karena itu, pengendalian limpasan membutuhkan kombinasi berbagai langkah, mulai dari memperbaiki saluran air, menampung sementara air hujan, meningkatkan daya resap tanah, hingga memulihkan vegetasi di lahan kritis.
Kolaborasi dengan perangkat daerah terkait juga diperlukan agar penanganan Lingkungan berjalan lebih menyeluruh. Di sisi lain, Rizki mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga fungsi sungai dan drainase.
Menurutnya, sampah rumah tangga masih ditemukan di sejumlah saluran air saat kegiatan normalisasi berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi menghambat aliran air dan mengurangi fungsi drainase.
“Kita sama-sama saling menjaga Kota Bandung. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah rumah tangga ke sungai ataupun drainase, memilah sampah dengan baik dan menyiapkan tempat sampah tersendiri,” pungkasnya.***
Editor : JakaPermana
