Bantu Atasi Karhutla, MUI Serukan Masyarakat Bertaubat dan Sholat Istisqa Minta Hujan
MUI serukan agar semua masyarakat muslim bertaubat dan melakukan sholat istisqa untuk meminta turun hujan dalam bantu atasi karhutla.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Sampai hari ini, Selasa, 20 Oktober 2026, Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah di seluruh Indonesia.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam untuk melaksanakan Shalat Istisqa secara berjamaah guna memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) agar diturunkan hujan yang membawa berkah dan rahmat.
Permintaan ini dilakukan MUI untuk merespons kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Wakil Ketua Dewan Pimpinan MUI Cholil Nafis mengatakan pihaknya mengajak seluruh umat Islam untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha) atas segala dosa dan kelalaian, termasuk perbuatan yang merusak alam dan lingkungan.
Umat juga diminta untuk memperbanyak istigfar dan membaca Qunut Nazilah dalam Shalat Fardu sebagai ikhtiar spiritual memohon perlindungan dari musibah, bahaya kabut asap, dan bencana kekeringan.
Cholil mengingatkan menjaga lingkungan dan melindungi keselamatan manusia merupakan kewajiban syari.
"Karena karhutla saat ini sudah pada tingkat emergency, maka kami menyampaikan saran kepada yang terhormat Bapak Presiden untuk memberikan perhatian yang lebih besar lagi hingga masalah karhutla ini benar-benar dapat teratasi," tutur Cholil.
Pihak MUI juga meminta aparat penegak hukum untuk bertindak tegas, adil, dan tanpa pandang bulu, terhadap perorangan maupun korporasi yang melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sengaja untuk kepentingan bisnis.
"Perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan (mafsadah) dan mengancam kelangsungan hidup manusia bertentangan dengan prinsip-prinsip utama hukum Islam," ujar Cholil.
MUI mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Cholil menyebut kondisi ini telah mengganggu aktivitas masyarakat, merusak ekosistem, serta mengancam kesehatan dan keselamatan warga, khususnya anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
"Apalagi karhutla ini telah menimbulkan dampak serupa di beberapa negara tetangga, khususnya Malaysia dan Singapura," katanya.
Maka dari itu pihak MUI mengajak publik untuk bergotong royong (ta'awun) dengan saling membantu warga yang terdampak kabut asap, mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru di lingkungan masing-masing, serta tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan.***
Editor : Irma Nurfajri
