Berawal dari Hobi, Pria Paruh Baya di Parongpong Bisa Raup Cuan dari Budidaya Bonsai

Siapa yang tak kenal bonsai, sebuah seni menanam dan merawat pohon atau tanaman dalam pot dangkal untuk menciptakan miniatur dari pohon besar yang sudah tua di alam bebas. 

Berawal dari Hobi, Pria Paruh Baya di Parongpong Bisa Raup Cuan dari Budidaya Bonsai
Rusmana alias Apih Rus (53) salah satunya, warga Kampung Cihideung (Belapati) RT 02/14, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong ini sudah lima tahun menggeluti usaha bonsai ini. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Siapa yang tak kenal bonsai, sebuah seni menanam dan merawat pohon atau tanaman dalam pot dangkal untuk menciptakan miniatur dari pohon besar yang sudah tua di alam bebas. 

Bonsai sendiri berasal dari Tiongkok dan berkembang pesat di Jepang. Seni ini mencakup berbagai teknik pemangkasan, pembentukan, dan perawatan untuk menciptakan miniatur yang mencerminkan keindahan, kesabaran, dan keseimbangan alam. 

Dari bibir pot ke ujung atas, maksimal memiliki tinggi 150 cm. Meski begitu, Bonsai memiliki nilai jual tinggi dengan harga yang berbeda-beda tergantung keunikan dan keindahan dari tanaman bonsai itu sendiri.

Rusmana alias Apih Rus (53) salah satunya, warga Kampung Cihideung (Belapati) RT 02/14, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong ini sudah lima tahun menggeluti usaha bonsai ini.

Berawal dari hobi, pria paruh baya yang sekaligus menjual tanaman hias di wilayah Parongpong ini mengungkapkan berbagai keuntungan dari budidaya bonsai yang ia lakukan di halaman rumahnya.

"Saya udah 5 tahun menggeluti budidaya bonsai ini. Awalnya dari hobi, karena kebetulan saya juga jualan tanaman hias dan melihat banyak potensi di bonsai," kata Apih Rus saat ditemui di kediamannya, Minggu 19 Oktober 2025.

Apih Rus menyebut ada berbagai jenis bonsai yang dibudidayakannya mulai dari sinensis, cemara jarum, pua-pua, cemara lilin dan lainnya.

"Kalau sekarang yang lagi rame itu cemara sinensis. Itu dijual mulai harga Rp250-Rp750 ribu. Ada yang Rp400 ribu, tergantung bahan," sebutnya.

"Bahkan ada yang sempat dijual dikisaran harga Rp1,5-Rp2 juta," ucapnya.

Apih Rus mengaku tidak ada kendala atau kesulitan yang berarti dalam budidaya tanaman bonsai ini. Sebab, semakin panjang umurnya, semakin mahal harganya. Bahkan, di sini ada yang sudah berusia 15 tahun.

"Alhamdulillah gak sulit untuk budidaya bonsai ini karena tahan lama. Hanya tinggal sabar, kreatif, dan telaten dalam perawatannya," ujarnya.

Dikatakan Apih Rus, salah satu nilai bonsai itu ada pada bentuk, sehingga keahlian dan kreatifitas dalam membentuk ini sangat diperlukan.

"Pasar bonsai ini cukup luas, saya aja paling jauh itu dijual ke Jakarta dan Surabaya. Kebetulan kalau di sini masih banyak bahan bonsai liarnya untuk dibentuk," ucapnya.

"Kalau di sini bonsainya biasanya untuk kembali dijual di jongko-jongko," ucapnya.

Selain itu, sambung Apih Rus, pemasaran bisa dilakukan melalui pameran atau event-event bonsai, seperti di Karawang.

"Biasanya kalau di pameran banyak ditemukan bonsai yang nilainya hingga ratusan juta," ucapnya.

Sementara untuk media bonsai ini tak banyak, hanya sekam dan pupuk kandang. Perbandingannya sekam tiga karung dan pupuk kandangnya 1 karung. 

Lalu, setelah tercampur rata dan ditambah air, diamkan selama 2 sampai 3 hari karena pupuk kandang seperti kotoran ayam kan sifatnya panas.

"Kalau untuk pupuk kandang, saya pakai kotoran ayam. Merawat bonsai itu harus sabar, gak bisa sehari atau dua hari," ucapnya.


Editor : Doni Ramdhani