Dari 40 Kecamatan di Cirebon, Hanya 9 Yang Bebas Banjir, 2 Desa Ini Terparah
Banjir menjadi persoalan tiap tahun yang kerap terjadi di Kabupaten Cirebon. Dari 40 Kecamatan hanya, 9 yang bebas banjir. Desa Mekar Sari dan Desa Gunung Sari adalah dua desa terparah di Kecamatan Waled yang selalu menanggung derita setiap kali banjir datang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - banjir menjadi persoalan tiap tahun yang kerap terjadi di kabupaten cirebon. Dari 40 Kecamatan hanya, 9 yang bebas banjir. Desa Mekar Sari dan Desa Gunung Sari adalah dua desa terparah di Kecamatan Waled yang selalu menanggung derita setiap kali banjir datang.
Sekban BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda menyebutkan, persoalan banjir khususnya di Kecamatan Waled karena penumpukan sedimen dan penyempitan daerah aliran sungai ciberes. Sampai saat ini, sedimin tersebut belum juga dinormalisasi oleh BBWS.
"Memang pernah ada normalisasi tapi mungkin karena kurang anggaran jadi tidak menyeluruh. D isamping itu, kalau curah hujan di Kabupaten Kuningan intensitasnya tinggi dalam jangka waktu lama, ya Kabupaten Cirebon terkena imbasnya," kata Syamsul, Senin 8 Desember 2025.
Syamsul menjelaskan, sebetulnya bukan di Kecamatan Waled saja yang rawan banjir. Tapi ada 31 Kecamatan dari 40 Kecamatan di Kabupaten Cirebon yang rawan banjir. Sembilan kecamatan sisanya, rawan potensi longsor dan puting beliung.
Tercatat, 31 Kecamatan yang rawan banjir adalah Kecamatan Susukan, Gegesik, Ciwaringin, Arjawinangun, Panguragan, Klangenan, Palimanan, Depok, Jamblang, Pangenan, Sumber, Gunung Jati, Suranenggala, Kapetakan, Plumbon, Plered, Kedawung.
"Ada juga kecamatan Asjab, Mundu, Pangenan, Karangsembung, Gebang, Losari, Pabedilan, Ciledug, Waled, Pasalemen, Karangwareng, Lemahabang, Tengah Tani dan Kecamatan Kaliwedi. Jadi dari 40 Kecamatan hanya 9 Kecamatan yang bebas banjir," ungkap Syamsul.
Sementara untuk Kecamatan Dukupuntang, Greged, beber sedong, susukan lebak lanjut Syamsul masuk dalam potensi bencana tanah longsor. Potensi potensi bencana inilah akunya yang harusnya diwaspadai masyarakat saat Nataru karena memang sering terjadi setiap tahunnya.
Syamsul menjelaskan, imbas dari kejadian bencana, sampai akhir November tahun ini ada sekitar 8 ribuan unit rumah terendam saat banjir dan 4 unit rumah rusak berat. lalu ada sekitar 100 unit rumah rusak ringan dan 65 unit rumah ibadah juga rusak ringan. Sedangkan atas kejadi itu ada kurang lebih 20 ribuan KK dan 50 ribu jiwa lebih ikut terdampak.
"Memang yang paling parah bencana di Kabupaten Cirebon itu adalah banjir. Ini karena kiriman air dari hulu serta sedimentasi sungai ciberes yang cukup tinggi," jelasnya.
Syamsul menambahkan, sudah melakukan koordinasi dengan pihak BBWS, untuk mencari solusi penanggulan masalah banjir, khususnya di Cirebon Timur. Pihak BBWS juga sudah melakukan normalisasi sungai cisanggarung, namun belum bisa optimal. Sedangkan Pemkab Cirebon sedang berupaya melakukan pengerukan sungai ciberes.
"Kita juga harus melakukan normalisasidi kali pembuang lebak putat dan kali pembuang lebak lamaran. Sedimentasinya sudah sangat tinggi. Jadi tidak bisa menampung debit air saat curah hujan tinggi," tukas Syamsul.
Editor : Ahmad Sayuti
