Dedi Mulyadi Ogah Warga Jabar Berutang Gegara Gengsi Gelar Pesta Nikah
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengaku, surat edaran terkait nikah sederhana sejatinya belum dibuat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengaku, surat edaran terkait nikah sederhana sejatinya belum dibuat.
Ia menjelaskan, bila nanti dibuat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, surat tersebut hanya berupa imbauan untuk diikuti, khususnya bagi masyarakat miskin.
"Surat edarannya belum dibuatkan. Tapi andaikata dibuat, sifatnya adalah ajakan atau imbauan buat masyarakat yang berpenghasilan rendah," ujar Dedi di Kota Bandung, Jumat (17/4/2026).
Dedi melanjutkan, masih banyak masyarakat berpenghasilan rendah terjebak oleh gengsi. Tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup, namun memaksakan melakukan hajatan pesta pernikahan dan khitanan.
"Sebaiknya tidak melakukan kegiatan yang bersifat acara karyaan, dalam bahasa Sunda, yang menimbulkan biaya tinggi dan menjadi beban utang," ucapnya.
Sebab tidak sedikit klaim Dedi, masyarakat yang terjerat pinjaman ke rentenir karena memaksakan diri menggelar hajatan. Akibatnya, mata rantai kemiskinan di Jabar terus berlanjut.
"Kita tahu, di berbagai tempat banyak orang memaksakan diri melaksanakan khitanan dan nikahan, menimbulkan utang besar sehingga jadi problem dan menambah angka kemiskinan," katanya.
Sebelumnya, Dedi menyampaikan bahwa esensi pernikahan bukan pada kemegahan acara, melainkan kesiapan membangun kehidupan bersama.
"Lebih baik tidak membuat pesta, menikahnya cukup di KUA, dan uang yang dimiliki bisa digunakan untuk masa depan pernikahan. Bisa untuk DP rumah, bisa untuk modal usaha, dan bisa untuk kegiatan lainnya," imbau Dedi.
Dalam pandangannya, perencanaan keuangan yang matang jauh lebih penting dibandingkan euforia sesaat dalam pesta pernikahan.
"Prinsip hidup itu lebih baik jadi raja selamanya daripada raja sehari, sengsara selamanya," ujarnya.
Bahkan ia mengajak, ketimbang uang habis untuk pesta, lebih baik dialihkan menjadi aset jangka panjang, seperti rumah. Ia menegaskan, kebahagiaan tidak diukur dari kemegahan pesta, melainkan kesiapan finansial setelah menikah.
"Pesan saya, lebih baik uang buat pesta perkawinan dipakai beli rumah daripada jadi raja semalam besoknya sengsara," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana
