Dedi Mulyadi Tegaskan Investasi Jabar Harus Serap Tenaga Kerja
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menegaskan investasi harus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi daerah. Realisasi investasi Jabar mencapai Rp91 trili
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga harus dilihat dari kemampuan menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, dan meningkatkan pendapatan daerah.
Dedi mengatakan, di tengah tingginya realisasi investasi Jawa Barat. Di mana sepanjang Januari-September 2026, penanaman modal asing (PMA) di provinsi ini mencapai Rp132 triliun atau 17,9 persen dari total investasi asing nasional.
Dedi menilai, pemerintah daerah harus memastikan investasi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Sebab itu, kebijakan investasi perlu diarahkan agar mampu memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong perputaran ekonomi di daerah.
“Kalau kita berinvestasi Rp500 miliar, tetapi menghasilkan 100.000 tenaga kerja, pajak, perputaran ekonomi, infrastruktur, kemudian kembali lagi menjadi pendapatan daerah, itu jauh lebih bermanfaat,” ujar Dedi di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (20/10/2026).
Menurut Dedi, penciptaan iklim usaha yang kondusif menjadi salah satu kunci untuk menjaga daya tarik Jawa Barat di mata investor. Pemerintah provinsi, kata dia, perlu turun tangan ketika pengusaha menghadapi hambatan dalam menjalankan maupun mengembangkan usahanya.
“Kalau ada kendala, saya suka mendampingi para pengusaha untuk berkomunikasi dengan berbagai instansi, termasuk bertemu para menteri untuk membicarakan problem-problem yang ada,” ucapnya.
Selain pendampingan kepada investor, kesiapan infrastruktur dan kecepatan perizinan menjadi dua aspek yang harus dibenahi. Konektivitas jalan tol, jaringan listrik, telekomunikasi, pipa gas, serta pasokan air bersih dinilai menentukan kelancaran operasional industri.
“Investasi itu akan datang manakala jalan tolnya baik, listriknya terkoneksi, jaringan telekomunikasinya terkoneksi, jaringan pipa gasnya terkoneksi, jaringan air bersihnya terkoneksi,” katanya.
Dedi menegaskan, dukungan tersebut harus berjalan beriringan dengan penyederhanaan proses administrasi agar kegiatan usaha tidak terhambat birokrasi.
“Perizinan harus cepat, infrastruktur harus dibangun dengan baik,” tuturnya.
Besarnya potensi investasi Jawa Barat juga tercermin dari realisasi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri (PMA dan PMDN) pada Triwulan III 2026, yang mencapai Rp91 triliun atau 17,2 persen dari total investasi nasional. Nilai tersebut melampaui realisasi investasi DKI Jakarta sebesar Rp75,7 triliun pada periode yang sama.
Kawasan industri Bekasi dan Karawang, serta pengembangan kawasan Rebana yang mencakup Subang dan sekitarnya, menjadi bagian penting dari basis manufaktur Jawa Barat. Kawasan tersebut menopang industri berorientasi ekspor yang membutuhkan dukungan infrastruktur dan kepastian berusaha.
Pemprov Jawa Barat kata dia, dituntut tidak hanya menjaga besarnya arus investasi, tetapi juga memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok industri. Sehingga pertumbuhan penanaman modal, diharapkan membuka lebih banyak lapangan kerja dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat di berbagai daerah.
Editor : Ahmad Sayuti
