Di Sudut Sekolah, Limbah Disulap Menjadi Berkah

Di Sudut Sekolah, Limbah Disulap Menjadi Berkah
PENGOLAHAN: Siswa SMAN 6 Tasikmalaya saat terlibat langsung pengolahan sampah di lingkungan sekolah.Mereka mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi kompos, pupuk organik cair, hingga magot. (INILAH/NUNUNG NUROHMAN)

INILAH, Tasikmalaya- Di sudut SMAN 6 Tasikmalaya, keresahan telah berubah menjadi ruang kreasi yang menghidupkan.

Berawal dari rasa prihatin bersama terhadap persoalan limbah, warga sekolah di Jalan Cibungkul Nomor 6 ini sepakat untuk tidak lagi membiarkan sampah mereka terbuang sia-sia begitu saja.

“Latar belakangnya murni dari keprihatinan kami, warga sekolah, terhadap masalah sampah,” kenang Nandar Setiamulyadi, Koordinator Kokurikuler SMAN 6 Tasikmalaya, pada Senin (12/10).

Dipicu oleh keinginan kuat untuk memberi nilai baru pada barang sisa, sekolah ini mulai merintis program pengelolaan sampah sejak tahun 2025.

Awalnya, mereka fokus mengubah dedaunan dan sisa makanan menjadi kompos serta pupuk organik cair. Namun, kreativitas mereka tidak berhenti di situ.

Demi mempercepat proses penguraian, mereka mulai melirik budidaya magot (larva lalat Black Soldier Fly).

Keputusan itu berbuah manis. Magot terbukti jauh lebih efektif dan cepat dalam melahap sampah organik.

Bayangkan saja, hanya bermodalkan 20 gram telur magot, dalam waktu 21 hari mereka bisa memanen hingga 146 kilogram magot siap pakai.

Hasil panen yang melimpah ini kemudian dialokasikan sebagai pakan bergizi tinggi untuk ikan dan ayam yang dipelihara di lingkungan sekolah.

Menariknya, siklus ramah lingkungan ini juga ikut mengelola sebagian kecil sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diadakan di sekolah. Meski begitu, Nandar meluruskan bahwa program ini tidak menggantungkan nasib pada sisa makanan MBG.

“Kami tekankan, sisa MBG itu hanya sebagian kecil. Lagipula, tidak setiap hari ada makanan yang tersisa,” jelas Nandar tersenyum.

Sumber utama mereka tetaplah ekosistem sekolah itu sendiri.

Dengan jumlah siswa yang mencapai hampir 1.500 orang, pengelolaan sampah di sekolah diharapkan menjadi salah satu upaya mengurangi sampah yang terbuang sekaligus memperkenalkan pemanfaatan sampah organik secara berkelanjutan.

Hasil budidaya magot tidak diperjualbelikan ke luar sekolah. Magot dimanfaatkan untuk pakan ikan dan ayam, sedangkan telur serta ikan hasil budidaya digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga sekolah.

(nunung nurohman/bsf)


Editor : Inilahkoran