Drama Nestapa di Giuseppe Meazza

Drama Nestapa di Giuseppe Meazza
Net

STADION Giuseppe Meazza seperti dipenuhi puluhan ribu patung tak bersuara.
Para suporter tertunduk lesu, memandangi papan skor bertuliskan 3-4 untuk kekalahan Inter Milan.

Oleh: Bsafaat

Di sudut lapangan, kapten Lautaro Martinez berdiri terpaku, menatap rumput hijau dengan pandangan kosong. Dua gol indah yang ia sarangkan malam itu seolah menguap tanpa arti.

Duel Inter vs Club Brugge di Stadion Giuseppe Meazza, Rabu (14/10) dini hari WIB, itu bak pertunjukan drama tentang nestapa tuan rumah.

Seorang pemuda berusia 22 tahun asal Jerman, Nicolo Tresoldi telah membungkam segala keriuhan di seantero tribun penonton.

Datang sebagai penyerang yang kurang diperhitungkan di level Eropa, Tresoldi mengobrakabrik pertahanan kokoh yang digalang Manuel Akanji dan Alessandro Bastoni.

Tiga kali ia menaklukkan Josep Martinez—lewat penalti dingin di babak pertama, disusul dua sontekan mematikan di babak kedua—melengkapi sebuah hattrick ikonik di tempat penuh sejarah itu.

Kombinasi kecepatan Carlos Forbs dan ketajaman Tresoldi mengeksploitasi lini belakang Inter yang malam itu tampak bermain “setengah tertidur”.

Bahkan gol tambahan dari Romeo Vermant di menit ke- 87 kian menegaskan bahwa malam itu adalah malam penuh keputusasaan bagi La Beneamata.

Bagi para Interisti yang memadati stadion maupun yang terjaga di seberang lautan, pertandingan ini adalah roller coaster emosi yang menyiksa.

Dari tertinggal akibat penalti Tresoldi, melonjak kegirangan saat Lautaro menyamakan kedudukan, hingga terhempas dalam keputusasaan ketika skor berubah menjadi 1-3.

Detak jantung penonton sempat dipacu kembali ketika Lautaro memperkecil kedudukan menjadi 2-3 di menit ke-81.

Harapan menyala kembali di tribun San Siro—sebuah keyakinan magis khas malam Eropa bahwa comeback itu nyata.

Namun, sepak bola terkadang sangat sinis. Hanya enam menit berselang, gol chip indah dari Romeo Vermant membungkam asa tersebut. Gol telat Bonny di masa injury time tidak lagi disambut dengan sorak-sorai, melainkan helaan napas panjang.

Mereka tahu, waktu telah habis, dan takdir malam itu telah menggariskan luka baru dalam sejarah Eropa Nerazzurri.

Dalam konferensi pers usai laga, Pelatih Christian Chivu enggan mencari kambing hitam.

Dia menegaskan dirinya sebagai sosok paling bertanggung jawab atas kekalahan ini.

“Kami kehilangan keseimbangan setelah gagal memanfaatkan peluang emas.

Muncul rasa frustrasi, permainan menjadi kacau, dan saya bertanggung jawab penuh atas hasil ini,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Mengingat masih ada enam pertandingan tersisa, maka Chivu selaku pelatih mewantiwanti para pemainnya agar lekas berbenah jika masih ingin bertahan di Liga Champions.

“Kami kebobolan dari serangan balik, lalu kami menyamakan skor. Setelah kebobolan gol kedua, kami terlalu banyak meninggalkan ruang.

Kami ingin menang tapi malah memberikan mereka ruang terlalu banyak. Anda tidak bisa seperti itu di Liga Champions,” pungkasnya.(bsf)


Editor : Inilahkoran