DSDABM Perkuat Pengendalian Air: Rawat Resapan Cegah Genangan

DSDABM Kota Bandung memperkuat upaya pengendalian limpasan air hujan. Sumur resapan, normalisasi drainase, dan penghijauan jadi andalan menekan risiko banjir.

DSDABM Perkuat Pengendalian Air: Rawat Resapan Cegah Genangan
NORMALISASI DRAINASE: Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, mengandalkan berbagai strategi dalam mengurangi limpasan air hujan dan risiko banjir. Upaya dilakukan melalui normalisasi drainase, pembangunan sumur imbuhan dalam, sumur biopori, kolam retensi dan penghijauan lahan kritis.( Foto ISTIMEWA )

Oleh: Yogo Triastopo

Hujan yang mengguyur Kota Bandung membawa tantangan tersendiri bagi pengelolaan air. Bentuk wilayah yang menyerupai cekungan, padatnya permukiman, serta terbatasnya lahan resapan membuat air hujan perlu dikelola agar tak memicu banjir.

Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung mengandalkan sejumlah strategi untuk mengurangi limpasan air hujan.  Upaya tersebut meliputi normalisasi drainase, pembangunan sumur imbuhan dalam, sumur biopori, kolam retensi, hingga penghijauan di lahan kritis.

Kepala DSDABM Kota Bandung Rizki Kusrulyadi mengatakan, langkah-langkah itu dilakukan secara berkelanjutan sejak awal tahun, termasuk selama musim kemarau. 

Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memperlancar aliran air, tetapi juga meningkatkan kemampuan tanah menyerap dan menampung air hujan.

“Dari awal tahun, pekerjaan kita itu fungsinya untuk menormalisasi drainase, membangun kolam retensi, membuat sumur imbuhan dalam, sumur biopori dan berbagai upaya lainnya. Intinya untuk mengurangi limpasan air,” kata Rizki, Rabu (14/10). 

Hingga Oktober 2026, pembangunan sumur imbuhan dalam di Kota Bandung telah mencapai sekitar 1.300 unit yang tersebar di berbagai lokasi. 

Fasilitas ini membantu mengalirkan air ke dalam tanah sehingga volume air yang menggenang atau mengalir di permukaan dapat dikurangi.

Namun, penanganan air hujan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Kondisi lahan dan tutupan vegetasi turut menentukan seberapa besar air dapat diserap sebelum mengalir menuju kawasan yang lebih rendah.

Karena itu, penghijauan di lahan kritis menjadi bagian dari strategi DSDABM. Pohon dengan akar kuat ditanam untuk membantu meningkatkan penyerapan air sekaligus mengurangi tanah yang terbawa aliran hujan dan berpotensi menyebabkan sedimentasi.

“Kalau lahan kritis terkena hujan, air dan tanah bisa melimpas. Itu yang menyebabkan sedimentasi. Makanya kita perkuat dengan tanaman-tanaman yang berakar kuat, sehingga air bisa lebih banyak meresap ke dalam tanah,” ucapnya.

Setelah melakukan penghijauan di wilayah Cihanja, DSDABM merencanakan penanaman pohon lanjutan di kawasan Pasirwangi dan Ujungberung. Upaya ini diarahkan untuk memulihkan tutupan vegetasi dan memperkuat fungsi resapan air di kawasan yang membutuhkan penanganan.

Menurut Rizki, kondisi geografis Kota Bandung yang menyerupai cekungan membuat pengelolaan air membutuhkan pendekatan menyeluruh. 

Air dari kawasan yang lebih tinggi dapat mengalir ke wilayah kota, sementara kepadatan permukiman di sejumlah titik turut membatasi ketersediaan lahan resapan dan memengaruhi kapasitas drainase.

"Karena itu, pengendalian limpasan membutuhkan kombinasi berbagai langkah mulai dari memperbaiki saluran air, menampung sementara air hujan, meningkatkan daya resap tanah sampai memulihkan vegetasi di lahan kritis," ujar dia. (gin)


Editor : Inilahkoran