Halte Dikaji Akses Diperbaiki
PEMKOT Bandung mengevaluasi desain halte BRT Kiaracondong. Drainase dan akses disabilitas menjadi perhatian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
Rencana pembangunan transportasi publik tak cukup hanya menghadirkan halte dan jalur layanan. Akses bagi penyandang disabilitas serta kelancaran aktivitas warga juga perlu diperhitungkan.
Persoalan itu kini menjadi perhatian Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, yang menyiapkan evaluasi desain halte bus rapid transit (BRT) di kawasan Kiaracondong sebelum layanan tersebut beroperasi.
Kritik terhadap aksesibilitas halte menjadi salah satu alasan peninjauan. Farhan ingin memastikan fasilitas transportasi umum dapat digunakan masyarakat secara lebih inklusif, tanpa mengabaikan desain yang telah disusun pengelola BRT.
Pemerintah Kota Bandung akan membicarakan persoalan tersebut bersama pengelola BRT dan kontraktor yang terlibat dalam pembangunan. Evaluasi diharapkan membuka ruang penyesuaian sebelum halte digunakan masyarakat.
“Bagaimanapun juga, kita akan selalu mendukung agar akses disabilitas kepada transportasi umum itu berjalan dengan baik. Pada saat bersamaan, kami juga tentu saja harus memperhatikan desain yang sudah dibuat oleh BRT,” kata Farhan, Senin (19/10).
Persoalan yang perlu ditinjau ternyata bukan hanya akses bagi penyandang disabilitas. Pembangunan halte BRT di Jalan Rajawali juga menuai keluhan karena dinilai menutup akses kendaraan niaga menuju salah satu perusahaan logistik.
Kondisi tersebut membuat evaluasi perlu mempertimbangkan kebutuhan yang lebih luas. Infrastruktur transportasi publik diharapkan mendukung mobilitas warga, tetapi pada saat bersamaan tidak menimbulkan hambatan bagi kegiatan usaha yang telah berjalan.
Farhan mengatakan, koordinasi dengan pihak terkait akan menjadi langkah awal untuk mencari solusi. Pemerintah Kota Bandung belum menentukan apakah desain halte perlu diubah secara menyeluruh atau cukup disesuaikan pada bagian tertentu.
“Kalau bongkar ulangnya, kita belum tahu ya. Tapi kita lakukan review, kita lakukan penyesuaian. Karena bagaimanapun juga mumpung belum operasional, maka sama-sama kita harus melakukan review,” ucapnya.
Kesempatan untuk meninjau ulang desain masih terbuka karena halte belum beroperasi. Bagi Farhan, kondisi itu perlu dimanfaatkan agar persoalan aksesibilitas dan kelancaran aktivitas masyarakat dapat diselesaikan sebelum fasilitas transportasi tersebut digunakan.
Di tengah peninjauan halte, persoalan lain di kawasan Kiaracondong turut menjadi perhatian, yakni saluran drainase yang berpotensi membuat air hujan masuk ke permukiman warga, khususnya RW 1 Jayanti.
Farhan meminta pembersihan saluran air dilakukan terlebih dahulu. Kotoran dan sarang tikus yang menghambat saluran perlu disingkirkan agar aliran air dapat menuju Sukapura dan tidak meluap ke kawasan permukiman.
“Sekarang kita bersihkan saja dulu. Yang paling penting, drainasenya dibersihkan dulu, sarang tikusnya dibuang dulu sehingga nanti saluran air kotornya itu bisa masuk ke arah Sukapura,” ujar dia. (gin)
Editor : Inilahkoran
