Hampir 60 Tahun Tinggal di Desa Nyalindung, Warga: Luapan Sungai Cimeta Tak Pernah Sampai ke Permukiman

Warga korban banjir bandang di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berharap pemerintah bisa mengendalikan kerusakan di wilayah hulu.

Hampir 60 Tahun Tinggal di Desa Nyalindung, Warga: Luapan Sungai Cimeta Tak Pernah Sampai ke Permukiman
Warga korban banjir bandang di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berharap pemerintah bisa mengendalikan kerusakan di wilayah hulu.

INILAHKORAN, Ngamprah - Warga korban banjir bandang di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berharap pemerintah bisa mengendalikan kerusakan di wilayah hulu.

Hal itu dilakukan agar warga Desa Nyalindung yang tinggal di kawasan hilir tidak menderita kena banjir.

Dedi Zulkifli (58), warga korban banjir di Kampung Cibarengkok, RT 03/13, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat mengatakan, luapan Sungai CImeta terjadi lantaran masifnya pembangunan infrastruktur di area hulu. 

"Saya sudah mengalami banjir bandang akibat luapan sungai Cimeta sebanyak 2 kali yakni tahun 2024 dan 2025," kata Zulkifli.

Menurutnya, dua kejadian itu merupakan hal baru selama hampir 60 tahun dirinya tinggal di Desa Nyalindung. Biasanya luapan Cimeta tak pernah sampai ke pemukiman warga. 

Namun sejak masifnya pembangunan 5 tahun terakhir, banjir menjadi langganan. 

"Hampir 60 tahun saya tinggal di sini, gak pernah ada banjir. Tapi dua tahun terakhir ini banjir jadi tiap tahun," tuturnya.

"Saya duga ini akibat ada pengerasan di atas sana macam kereta cepat, jalan tol, dan pembangunan lain. Imbasnya penyerapan air berkurang," jelasnya. 

Zulkifli berharap pemerintah bisa mengendalikan kerusakan di wilayah hulu. Supaya banjir bisa diatasi dan tak memicu bencana lebih luas lagi. 

"Harapan saya bagaimana di wilayah hulu pembangunan bisa dikendalikan. Agar warga yang tinggal di hilir gak menderita kena banjir," tandasnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, maraknya alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU) menjadi faktor pemicu terjadinya banjir bandang yang di sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pasalnya, daerah resapan air kini telah beralih menjadi lahan perkebunan sayuran, kawasan wisata dan permukiman.

"Hulu sungai di KBU sudah berubah dari hutan menjadi perkebunan sayur," kata Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi di Cipatat, Rabu 19 Maret 2025.

Tak hanya kondisi hulu yang kritis, sambung Dedi, terjadinya sedimentasi sungai kian memperparah banjir lantaran tak mampu menampung derasnya air yang masuk.

Alhasil, air sungai tersebut meluap dan menerjang ke permukiman warga.

"Kerusakan hulu dan pendangkalan sungai menjadi penyebab banjir kemarin. Hutannya kan sudah jadi kebon sayur, kebon sayurnya menanam pakai plastik," ujarnya.

Sebagai upaya pencegahan banjir jangka panjang, tegas Dedi, pihaknya pun bakal melakukan penertiban di KBU. Seperti yang dijalankan di kawasan puncak Bogor guna menangani banjir di Bekasi.

"Saya akan beresin sama seperti puncak," ucapnya.

Diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, bencana banjir akibat luapan sungai Cimeta mengakibatkan 25 rumah rusak dan 139 jiwa warga di Desa Nyalindung mengungsi. 

Selain di Nyalindung, BPBD mencatat 12 titik kejadian bencana longsor dan banjir yang tersebar di 6 kecamatan KBB, pada Sabtu 15 Maret 2025. Akibat bencana itu total rumah rusak mencapai 479 unit.***


Editor : JakaPermana