Harga Gabah di Pantura Jabar Tembus Rp8.000, Petani Nikmati Kebijakan HPP Baru

DTPH Jabar menyebut harga gabah di Pantura mencapai Rp8.000 per kilogram. Kenaikan harga di atas HPP Rp6.500 berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Harga Gabah di Pantura Jabar Tembus Rp8.000, Petani Nikmati Kebijakan HPP Baru
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat mengungkapkan kebijakan penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani.

Sepanjang 2025, harga gabah Kering Panen (GKP) di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat bahkan menembus Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram, jauh di atas HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Sekretaris DTPH Jawa Barat, Yanti Hidayatun Zakiah, mengatakan tingginya harga gabah di tingkat petani turut mendorong peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) serta memperkuat daya beli masyarakat pedesaan di Jawa Barat.

"Petani luar biasa senang. Pemerintah menetapkan standar Rp6.500 per kg, tetapi di lapangan, khususnya kawasan Pantura, pembeli berebut, hingga harga dibeli di atas itu, ada yang Rp7.000 sampai Rp8.000 per kg. Ini mendongkrak grafik NTP Jabar secara konsisten," ujar Yanti di Bandung, Senin (27/7/2026).

Harga Gabah Petani Terus Naik

DTPH Jawa Barat mencatat rata-rata harga GKP di tingkat petani sepanjang 2025 mencapai Rp6.552 per kilogram, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka Rp6.393 per kilogram.

Menurut Yanti, kenaikan harga tersebut menjadi kabar baik bagi petani karena mampu meningkatkan pendapatan hasil panen sekaligus memberikan kepastian usaha di sektor pertanian.

Persaingan pembeli untuk mendapatkan gabah berkualitas di kawasan Pantura juga menjadi salah satu faktor yang mendorong harga terus bergerak di atas HPP.

Nilai Tukar Petani Meningkat

Yanti menjelaskan, kenaikan harga gabah berpengaruh langsung terhadap peningkatan Nilai Tukar Petani yang menjadi indikator kesejahteraan petani menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, grafik NTP Jawa Barat menunjukkan tren meningkat secara konsisten. Kondisi tersebut menandakan nilai penerimaan petani dari hasil panen lebih tinggi dibandingkan pengeluaran yang mereka keluarkan untuk kegiatan usaha tani maupun kebutuhan rumah tangga.

Menurut DTPH, kondisi itu juga mendorong meningkatnya daya beli masyarakat di kawasan pedesaan.

Stok Pupuk Bersubsidi Dipastikan Aman

Selain didukung harga gabah yang tinggi, DTPH Jawa Barat memastikan sektor pertanian pada musim tanam 2026 juga ditopang oleh ketersediaan pupuk bersubsidi.

Hingga semester pertama 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 504.738 ton atau 47,55 persen dari total kuota sebanyak 1,06 juta ton.

Sementara untuk semester kedua atau periode Juli hingga Desember 2026, stok pupuk yang masih tersedia mencapai 556.849 ton atau sekitar 52,45 persen dari total kuota.

"Stok pupuk bersubsidi untuk semester II (Juli-Desember 2026) masih aman di angka 556.849 ton atau 52,45 persen. Kita pastikan distribusi ke daerah berjalan lancar sehingga dipastikan tidak ada kelangkaan di tingkat petani," tutur Yanti.

Semangat Produksi Meningkat

DTPH Jawa Barat optimistis kombinasi antara harga gabah yang menguntungkan dan ketersediaan pupuk bersubsidi akan meningkatkan semangat petani untuk terus menanam padi pada musim tanam 2026.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berharap kondisi tersebut mampu menjaga produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.***


Editor : JakaPermana