Infrastruktur Tangguh Bencana Jadi Fokus Para Akademisi Teknik Sipil
Aspek infrastruktur tangguh bencana menjadi fokus pembahasan Konferensi Nasional Teknik Sipil Indonesia ke-20 (Konteks 20) yang digelar Itenas Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kondisi infrastruktur tangguh bencana menjadi fokus pembahasan Konferensi Nasional Teknik Sipil Indonesia ke-20 (Konteks 20), yang digelar Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung pada 22-23 Oktober 2026.
Forum nasional itu mempertemukan akademisi, praktisi konstruksi, dan pemangku kepentingan guna memperkuat kolaborasi dalam menghadapi risiko bencana di Indonesia.
Ketua Panitia Konteks 20 sekaligus Ketua Program Studi Teknik Sipil Itenas Bernardinus Herbudiman mengatakan, kondisi geografis, geologis dan klimatologis Indonesia menghadirkan tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur.
Inovasi dan penguatan sistem pengelolaan infrastruktur, diperlukan agar pembangunan mampu menghadapi berbagai ancaman bencana.
"Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kondisi geografis, geologis dan klimatologis yang sangat kompleks. Oleh karena itu, inovasi dalam bidang perencanaan, perancangan, konstruksi, pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur menjadi sangat penting untuk menghadapi tantangan multi bencana di masa depan," kata Bernardinus Herbudiman, Kamis (22/10/2026).
Konferensi nasional itu menghadirkan tiga pembicara utama yang membahas berbagai persoalan strategis pembangunan infrastruktur. Materi yang disampaikan meliputi percepatan penanganan jembatan kritis, peran perguruan tinggi dalam mewujudkan infrastruktur tangguh bencana dan manajemen risiko multi bencana dan kesiapsiagaan infrastruktur nasional.
Sementara itu, Plt Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Gatot Sukmara mengapresiasi kolaborasi perguruan tinggi dalam mendukung upaya mitigasi bencana.
Hasil kajian akademik dan inovasi teknik sipil, dinilai dapat membantu pemerintah merumuskan langkah penanganan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap berbagai risiko.
"Agenda Konteks ini merupakan bentuk kolaborasi yang sangat baik dari perguruan tinggi yang harapannya dapat membantu pemerintah dalam memitigasi bencana di Indonesia melalui penanganan cepat, inovasi teruji, tata kelola akuntabel dan keberlanjutan yang adaptif terhadap perubahan hidrometeorologi, geologi dan geofisika," kata Gatot Sukmara.
Sedankan, Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Harkunti Pertiwi Rahayu menjadi salah satu pembicara utama dengan materi mengenai manajemen risiko multi bencana dan kesiapsiagaan infrastruktur nasional.
Pembahasan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mengenai pentingnya mitigasi bencana dalam pembangunan dan pengelolaan infrastruktur.
Konteks 20 melibatkan konsorsium 11 perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia. Kolaborasi itu didukung tiga pembicara utama, 11 pembicara undangan serta 177 makalah yang dipresentasikan dalam sesi paralel. Rangkaian kegiatan juga, mencakup kunjungan lapangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata.
Selain konferensi, kegiatan dilanjutkan dengan Musyawarah Nasional Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI) pada Jumat, (23/10/2026).
Agenda itu membahas pemutakhiran panduan kurikulum berbasis Outcome.Based Education (OBE), penetapan standar minimum laboratorium dan penguatan kompetensi lulusan teknik sipil di Indonesia.
Melalui rangkaian diskusi dan pertukaran hasil penelitian, Konteks 20 diharapkan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah dan praktisi konstruksi. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu aspek penting dalam mendorong inovasi serta meningkatkan kesiapsiagaan infrastruktur menghadapi risiko bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Editor : Doni Ramdhani
