Jabar Darurat Numerasi, 75 Persen Siswa SMA Lemah Matematika dan Nalar Logika

Peta kualitas pendidikan matematika di Jawa Barat masih jauh dari ideal.

Jabar Darurat Numerasi, 75 Persen Siswa SMA Lemah Matematika dan Nalar Logika
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Peta kualitas pendidikan matematika di Jawa Barat masih jauh dari ideal. Hasil pemetaan kompetensi matematika yang dilakukan FMIPA Institut Teknologi Bandung bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menunjukkan, mayoritas siswa belum memiliki kemampuan penalaran matematis yang memadai.

Temuan itu memperkuat sinyal rendahnya numerasi pendidikan di Jawa Barat, yang selama ini tercermin dalam rapor pendidikan nasional maupun hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Dari pemetaan terhadap 3.046 siswa SMA di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, lebih dari 75 persen siswa masih berada pada level kemampuan dasar. Sebagian besar baru mampu memahami konsep sederhana dan menyelesaikan soal rutin, namun belum kuat dalam analisis maupun problem solving tingkat tinggi.

Ketua Tim Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa SMA se-Jabar dari FMIPA ITB, Profesor Edy Tri Baskoro menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak karena matematika merupakan fondasi utama penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Matematika merupakan core competency yang harus dikuasai oleh semua siswa dari semua level. Matematika adalah fondasi untuk memahami perkembangan bidang-bidang lain, science, engineering, semuanya," ujarnya usai merilis hasil pemetaan kompetensi matematika siswa se-Jabar di Disdik Jabar baru-baru ini.

Pemetaan dilakukan menggunakan platform online testing MathERA. Hasilnya, sebanyak 39,40 persen siswa berada di level I atau pemahaman konseptual dasar. Sementara 35,78 persen lainnya berada di level II atau baru menguasai kemampuan prosedural.

Adapun siswa yang mampu mencapai level III atau penalaran matematis, hanya 23,70 persen. Lebih memprihatinkan lagi, level IV atau kemampuan problem solving tingkat tinggi yang menjadi standar asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS hanya berhasil dicapai 1,12 persen siswa.

"Kompetensi matematika di Indonesia masih sangat rendah. Hasil TKA menunjukkan itu dan temuan pemetaan kita meng-emphasize hal yang sama," ucapnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat mengakui, hasil pemetaan ITB selaras dengan kondisi numerasi Jawa Barat yang selama ini tercatat dalam rapor pendidikan.
Pada 2025, skor numerasi Jawa Barat hanya mencapai 66,81 atau masih berada di bawah target 70,6.

"Para kepala dinas pendidikan se-Indonesia pun menyampaikan hal yang sama bahwa nilai rapor numerasi masih sangat rendah, termasuk di Jawa Barat," katanya.

Menurut Deden, lemahnya numerasi tidak hanya terjadi di SMA. Persoalan serupa juga ditemukan pada jenjang SMK hingga sekolah luar biasa (SLB).

"Dari hasil yang ada, terlihat adanya korelasi yang signifikan antara rapor mutu pendidikan dengan hasil TKA," ungkapnya.

Pemetaan ITB juga mengungkap, disparitas kemampuan matematika antarwilayah di Jawa Barat masih cukup tajam.

Kabupaten Pangandaran menjadi daerah dengan skor tertinggi mencapai 542,06. Disusul Kota Bekasi 532,83, Kabupaten Tasikmalaya 531,33, Kota Sukabumi 531,06, Kabupaten Purwakarta 529,61, Kabupaten Bogor 528,64, dan Kota Bandung 527,16.

Sebaliknya, skor terendah ditemukan di Kota Cirebon dengan 443,07, lalu Kota Tasikmalaya 450,49, Kabupaten Bandung Barat 461,44, Kabupaten Kuningan 464,44, dan Kabupaten Majalengka 467,45. Tak berhenti di tingkat SMA, pemetaan juga diperluas ke jenjang SMP dan SD di wilayah cekungan Bandung.

Pada tingkat SMP, sebanyak 34,88 persen siswa masih berada di level I dan 41,91 persen di level II. Hanya 1,18 persen siswa yang mampu mencapai level IV.

Sementara di tingkat SD, 20,79 persen siswa berada di level I dan 34,51 persen di level II. Adapun siswa yang berhasil mencapai level IV hanya 1,79 persen.

Selain siswa, kualitas tenaga pengajar juga menjadi sorotan utama dalam hasil evaluasi tersebut. Sebagai tindak lanjut, FMIPA ITB bersama Disdik Jabar mendorong pelaksanaan Assessment of Mathematical Competency for Teachers (AMCT-Jabar) bagi seluruh guru matematika SMA di Jabar.

Program itu menargetkan 80 persen guru matematika memenuhi standar kompetensi baru pada 2028. Guru dengan kemampuan rendah, akan mengikuti program upskilling selama 6 hingga 12 bulan. Deden menegaskan, penguatan guru menjadi kunci penting dalam pembenahan pendidikan matematika dan sains di Jawa Barat.

"Intervensi juga perlu dilakukan kepada guru, baik melalui uji kompetensi maupun pelatihan. Sebab, ketika berbicara tentang STEAM dan sains, akan sulit meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Jawa Barat tanpa penguatan kompetensi guru," tegas Deden.

Sebagai respons atas hasil pemetaan tersebut, Disdik Jabar bersama ITB menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari perubahan metode pembelajaran berbasis inquiry dan penalaran hingga penerapan minimal 40 persen soal berbasis argumentasi matematis dalam ujian sekolah.

Selain itu, 10 daerah dengan capaian terendah akan mendapatkan pendampingan intensif melalui pola co-teaching antara guru sekolah dan dosen ITB.

Seluruh hasil pemetaan nantinya akan diintegrasikan dalam Math Improvement Command Unit sebagai pusat pemantauan peningkatan kompetensi matematika siswa di Jawa Barat.

"Ini menjadi contoh bagi kita semua, bahwa memang diperlukan intervensi yang lebih mendalam terkait pendidikan sains dan matematika. Mari terus berupaya mulai dari SD, SMP, hingga perguruan tinggi. Berbagai upaya harus dilakukan bersama," tandasnya.***


Editor : JakaPermana