Jalan Rusak Cintajaya, Keluhan Lama Berujung Teguran

KERUSAKAN jalan Cintajaya, Ciamis, dikeluhkan warga sejak 2012. Polemik teguran Gubernur Jabar Dedi Mulyadi kembali menyoroti persoalan tersebut.

Jalan Rusak Cintajaya, Keluhan Lama Berujung Teguran
JADI SOROTAN: Kerusakan jalan di Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, yang dikeluhkan warga menjadi sorotan, setelah polemik video Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menegur warga viral di media sosial.(ANTARA)

Bertahun-tahun warga Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, menghadapi jalan rusak yang tak kunjung tuntas diperbaiki. Keluhan yang disebut telah disuarakan sejak 2012 itu kembali menjadi sorotan setelah video Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegur warga viral di media sosial.

Polemik bermula ketika Dedi bersama rombongan dialihkan melewati ruas jalan rusak, bukan menuju lokasi kegiatan yang dituju. Peristiwa itu memicu beragam tanggapan publik.

Namun, dalam pertemuan dengan warga di Lembur Pakuan, Subang, akhir pekan lalu, Dedi menjelaskan persoalan yang melatarbelakangi tegurannya sekaligus menyinggung kewenangan penanganan jalan tersebut.

Menurut Dedi, ruas yang semula berstatus jalan desa itu berubah menjadi jalan kabupaten pada 2023. Perubahan status tersebut membuat tanggung jawab penanganannya berada di tangan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Dia menegaskan, tegurannya bukan karena warga mengeluhkan jalan rusak. Kritik terhadap infrastruktur, kata dia, merupakan hal yang biasa diterimanya selama menjalankan tugas sebagai gubernur.

“Saya tidak marah karena diprotes jalan jelek. Diprotes jalan jelek, sejak di Cikasok pun saya senyum saja,” ujar Dedi, dikutip dari akun media sosialnya, Senin (19/10).

Persoalan muncul ketika rombongannya diarahkan melewati jalan rusak tanpa penjelasan memadai. Dedi mengaku semula mengira jalur tersebut merupakan akses menuju lokasi kegiatan. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, rombongan menyadari arah yang dituju tidak sesuai sehingga harus berbalik.

“Kalau disampaikan, ‘Pak, acaranya di sana’, mungkin saya juga tidak marah,” ucapnya.

Dedi juga menyoroti kerucut lalu lintas atau cone yang telah terpasang di tengah jalan sebelum rombongannya melintas. Kondisi itu menjadi salah satu hal yang dipersoalkannya dalam kejadian tersebut.

Bagi Dedi, teguran merupakan bagian dari kepemimpinan ketika ada sesuatu yang dinilai tidak tepat. Ia mengibaratkan hubungan pemimpin dengan masyarakat seperti orang tua dan anak, yang tidak selalu harus diwarnai sikap mengalah.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran