Jelang Peparda Jabar 2026, Atlet Disabilitas KBB Terancam Kehilangan Target Medali
Atlet disabilitas Bandung Barat menghadapi kendala anggaran jelang Peparda Jabar 2026. Sejumlah cabor kehilangan tempat latihan dan target medali terancam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Persiapan atlet disabilitas Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuju Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026 menghadapi kendala serius. Menjelang pembukaan yang dijadwalkan berlangsung di Kota Bandung pada 22 November 2026, sejumlah cabang olahraga (cabor) bahkan kehilangan akses ke tempat latihan karena tunggakan biaya sewa.
Tenis meja, judo, dan goalball menjadi tiga cabor yang dilaporkan terdampak. Ketidakpastian anggaran persiapan membuat pengurus harus mencari cara agar atlet tetap bisa berlatih di tengah keterbatasan biaya.
Situasi ini juga memunculkan kekhawatiran terhadap jumlah atlet yang dapat diberangkatkan hingga target medali yang telah ditetapkan.
Ketua National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat, Kasep Ayatulloh Muhammad Aliyasir, mengakui kondisi tersebut menyulitkan pengurus. Para atlet telah didaftarkan untuk mengikuti kompetisi, tetapi kepastian dana persiapan belum diperoleh.
Padahal, anggaran tersebut dibutuhkan untuk membiayai sewa tempat latihan, konsumsi harian, transportasi, seragam, hingga pengadaan peralatan pertandingan.
“Komunikasi dengan pemerintah daerah memang terus dilakukan, namun kepastian pencairan anggaran penuh masih menunggu hasil evaluasi tingkat provinsi,” kata Kasep, Senin (19/10/2026).
Akibat keterbatasan biaya, sejumlah cabor terpaksa mencari lokasi latihan alternatif yang lebih jauh. Salah satunya judo, yang kini harus berlatih di kawasan Arcamanik, Kota Bandung.
Perpindahan lokasi tersebut menambah beban biaya transportasi. Menurut Kasep, untuk sementara, biaya itu harus ditanggung pengurus maupun atlet yang rela menggunakan uang pribadi.
“Jarak yang jauh berarti biaya transportasi membengkak, biaya yang saat ini belum ada yang menanggungnya selain pengurus maupun atlet sendiri yang rela mengeluarkan dana pribadi,” ujarnya.
Ia menambahkan, perjalanan menuju lokasi latihan yang lebih jauh juga berpotensi mengurangi waktu latihan efektif dan mengganggu upaya menjaga kondisi fisik atlet menjelang pertandingan.
Kasep menegaskan, persoalan ini bukan sekadar keterlambatan administrasi. Tanpa kepastian anggaran, pengurus dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap membiayai persiapan dengan dana talangan atau menyesuaikan program latihan dengan kemampuan keuangan yang tersedia.
“Jika menunda persiapan, kualitas latihan menurun dan target medali terancam. Pengadaan seragam, peralatan tanding, pemesanan akomodasi, hingga transportasi ke lokasi pertandingan seharusnya sudah selesai disiapkan jauh-jauh hari,” katanya.
Hingga kini, menurut Kasep, uang muka untuk sejumlah kebutuhan persiapan pun belum dapat dibayarkan. Jika anggaran yang nantinya cair jauh di bawah kebutuhan, pengurus terpaksa mempertimbangkan pengurangan jumlah atlet atau cabang olahraga yang diberangkatkan.
Keputusan tersebut dinilai berat karena para atlet telah menjalani persiapan selama berbulan-bulan untuk tampil di ajang olahraga disabilitas tingkat Jawa Barat itu.
“Dengan berat hati kita akan mengurangi jumlah kontingen dan cabor. Target pun dengan berat hati tidak akan bisa terpenuhi,” ungkapnya.
Kasep berharap pemerintah daerah segera memberikan kejelasan mengenai anggaran dan mempercepat proses pencairannya agar persiapan kontingen KBB tidak semakin terganggu.
Bagi para atlet, Peparda bukan sekadar ajang untuk meraih prestasi. Kompetisi tersebut juga menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan, membawa kebanggaan bagi daerah, dan mewujudkan impian yang telah diperjuangkan melalui latihan.
“Jangan biarkan mimpi itu pudar hanya karena persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan bersama,” tegasnya.***
Editor : JakaPermana
