Kebakaran di Gunung Ciremai: Bara Membelah Rimba
KEBAKARAN mengancam kelestarian Gunung Ciremai. Petugas dan warga bahu-membahu mengendalikan api.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono/Cesar Yudistira
Malam belum sepenuhnya berlalu ketika laporan kebakaran hutan dan lahan masuk ke Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Jawa Barat.
Pukul 20.44 WIB, Rabu (21/10), api dilaporkan membakar dua lokasi di Kabupaten Kuningan. Salah satunya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati dan menjadi penyangga kehidupan di sekitarnya.
Bagi Hadi Rahmat, Pranata Humas BPBD Jawa Barat, laporan itu bukan sekadar deretan informasi tentang titik api, luas lahan terbakar, atau jumlah personel yang dikerahkan.
Di balik data tersebut, ada ancaman terhadap kawasan hutan yang harus segera ditangani sebelum kobaran api menjalar lebih jauh.
Informasi awal menyebutkan, kebakaran terjadi di Desa Pasayangan, Kecamatan Lebakwangi, dan Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan. Dua lokasi berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan penanganan cepat agar api tidak semakin meluas.
“Lokasi kejadian berada di dua titik, yakni Desa Pasayangan, Kecamatan Lebakwangi, dan Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan,” ujar Hadi, Kamis (22/10).
Di Dusun Kidul, Desa Pasayangan, api melahap kawasan kebun bambu. Dari total lahan sekitar dua hektare, kurang lebih 1,5 hektare terdampak kebakaran. Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Kuningan segera bergerak melakukan pemadaman sekaligus pendinginan.
Lima personel piket Regu 1 UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api. Dalam waktu sekitar 35 menit, upaya pemadaman di lahan bambu tersebut berhasil diselesaikan.
“Pemadaman berhasil dilakukan dalam waktu sekitar 35 menit,” kata Hadi.
Namun, penanganan belum selesai. Api juga membakar kawasan hutan TNGC di Desa Cibuntu, tepatnya di wilayah kerja Resor Pasawahan SPTN Wilayah I Kuningan. Luas kawasan yang terdampak masih dalam proses pendataan.
Di lokasi ini, upaya pemadaman melibatkan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) TNGC bersama masyarakat sekitar. Mereka bergerak menuju titik kebakaran untuk memadamkan api sekaligus mengamankan kawasan hutan.
Hadi memastikan, tim gabungan telah menuju lokasi untuk melakukan penanganan. Di tengah proses tersebut, petugas masih harus memastikan seberapa luas kawasan yang terbakar, sementara penyebab munculnya api di kedua lokasi belum diketahui.
“Tim Brigdalkarhutla TNGC bersama masyarakat sekitar kawasan hutan sudah menuju ke lokasi untuk melakukan upaya pemadaman dan pengamanan,” tuturnya.
Di balik laporan yang terus diperbarui, ada pekerjaan yang menuntut ketelitian sekaligus kecepatan. Informasi mengenai lokasi, luas kebakaran, personel yang bertugas, hingga perkembangan pemadaman perlu disampaikan agar penanganan bencana dapat dipantau dan masyarakat memperoleh kabar yang jelas.
Bagi petugas di lapangan, tantangannya lebih nyata. Memadamkan api di kawasan pegunungan bukan perkara mudah. Kondisi medan dan risiko penjalaran api membuat setiap langkah penanganan membutuhkan koordinasi antarpersonel dan dukungan masyarakat.
Keseriusan penanganan juga ditunjukkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Pada Kamis (22/10/2026), Dedi bertolak menuju Gunung Ciremai untuk memimpin langsung upaya penanganan kebakaran. Ia meminta doa masyarakat agar api segera dikendalikan dan seluruh petugas dapat menjalankan tugas dengan baik.
“Saat ini saya perjalanan menuju Gunung Ciremai. Mohon doanya pada seluruh warga Jawa Barat dan seluruh warganet, agar kebakaran Gunung Ciremai segera teratasi dan saya akan ke lokasi memimpin langsung upaya pemadaman api,” ujar Dedi.
Ia mengingatkan, kebakaran yang dibiarkan berlarut-larut berisiko menjalar ke kawasan yang lebih luas. Karena itu, percepatan pemadaman menjadi prioritas, meskipun karakteristik medan gunung menghadirkan tantangan tersendiri.
“Karena kalau dibiarkan, akan menimbulkan kerawanan kebakaran yang lebih luas,” ucapnya.
Ancaman api, menurut Dedi, juga perlu dicegah dari aktivitas manusia. Cuaca terik dan hujan yang belum turun secara merata meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika masyarakat membakar ilalang untuk membuka atau mengolah lahan.
“Jangan melakukan pembakaran-pembakaran ilalang untuk kepentingan pertanian dan sejenisnya. Di tengah-tengah udara lagi terik dan hujan masih belum turun secara merata,” katanya.
Hingga laporan disampaikan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, kebakaran di kawasan Ciremai menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan tidak berhenti pada upaya memadamkan api ketika bencana datang. Pencegahan dan kewaspadaan juga menentukan seberapa besar kerusakan dapat dihindari.
Sulit Dikendalikan
Medan terjal dan berbatu, vegetasi yang mengering, serta embusan angin membuat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), wilayah Pasawahan, Kabupaten Kuningan, tak mudah dikendalikan.
Sejak Rabu (21/10) malam, personel dari berbagai instansi dikerahkan untuk menahan laju api yang terus mengancam kawasan hutan. Mereka berasal dari unsur TNI, Polri, BPBD, Perhutani, pemadam kebakaran, masyarakat peduli api, hingga bantuan personel dari Kabupaten Majalengka dan Cirebon.
Di tengah medan yang sulit, setiap langkah menuju titik api menyimpan risiko. Kobaran yang merambat ke lereng curam dan berbatu membuat upaya pemadaman melalui jalur darat semakin menantang, bahkan membahayakan keselamatan petugas.
“Kalau api sudah menjalar ke lereng-lereng yang terjal dan berbatu, proses pemadaman melalui jalur darat akan sangat sulit dan berbahaya,” kata Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar di Kuningan, Kamis.
Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran membutuhkan dukungan lebih besar. Pemerintah Kabupaten Kuningan pun berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengupayakan bantuan helikopter melalui metode water bombing. Langkah ini diharapkan dapat menjangkau titik api yang sulit dicapai personel di darat.
Sementara itu, petugas yang telah berada di lapangan terus berjuang mengendalikan kebakaran. Operasi dilakukan secara berkesinambungan, dengan tambahan personel yang ditempatkan di posko penanganan dan menjalankan sistem penjagaan bergiliran.
Dian mengakui, perjuangan petugas berlangsung tanpa mengenal waktu. Mereka harus tetap siaga ketika api belum sepenuhnya terkendali, menghadapi medan berat sekaligus menjaga agar kobaran tidak meluas ke kawasan lainnya.
“Mereka berjuang di sana tanpa mengenal waktu, siang dan malam selama dua hari terakhir. Karena itu, provinsi memberikan insentif sebagai bentuk stimulus,” ujarnya.
Perhatian terhadap keselamatan petugas juga menjadi bagian dari penanganan. Pemerintah daerah menyiapkan tim medis dari puskesmas terdekat untuk memantau kondisi kesehatan personel gabungan dan relawan yang masih bertugas di kawasan lereng.
Di tengah upaya pemadaman, ancaman kebakaran tidak hanya datang dari kondisi alam. Aktivitas manusia yang memicu munculnya api juga menjadi perhatian, terlebih ketika pohon dan rerumputan di sepanjang jalur pendakian berada dalam kondisi kering.
Dian mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan dan lebih berhati-hati terhadap puntung rokok. Percikan kecil berpotensi memicu kebakaran ketika vegetasi mengering dan angin membantu api menjalar.
“Kami kembali mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan dan mewaspadai puntung rokok. Pohon-pohon dan rumput di sepanjang jalur pendakian saat ini sangat kering sehingga mudah tersulut, terlebih ketika angin bertiup,” katanya.
Hingga Kamis (22/10) petang, petugas masih melakukan pemadaman dari jalur darat dan membuat sekat bakar untuk membatasi pergerakan api. Kebakaran yang pertama kali terpantau pada Rabu (21/10) malam itu dilaporkan berkembang dari perkiraan awal sekitar lima hektare menjadi puluhan hektare. (gin)
Editor : Inilahkoran
