Kemarau Usai Longsor Mengintai

KEMARAU menyisakan krisis air bersih, hujan membawa risiko baru. BPBD Jabar mewaspadai potensi longsor.

Kemarau Usai Longsor Mengintai
TERGERUS LONGSOR: Foto udara material tanah longsor yang menggerus jalan di Desa Selacai, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, beberapa waktu lalu.(ANTARA FOTO/ADENG BUSTOM)

Oleh: Yuliantono

Hujan bisa menjadi kabar baik bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Namun, bagi Teten Ali Mulku Engkun, datangnya hujan juga menandai pekerjaan baru: memastikan masyarakat Jawa Barat terlindungi dari ancaman longsor.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat itu kini menghadapi dua tantangan sekaligus. Di satu sisi, kekeringan akibat kemarau panjang yang diperparah fenomena El Niño masih membebani jutaan warga.

Di sisi lain, peralihan menuju musim hujan menuntut kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan data BPBD Jabar hingga 13 Oktober 2026, sebanyak 1.294.655 jiwa atau 394.052 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan.

Mereka tersebar di 276 kecamatan dan 840 desa serta kelurahan.Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih. Untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga, pemerintah bersama sejumlah instansi telah menyalurkan 38.695.275 liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak.

Kabupaten Bekasi menjadi daerah dengan distribusi air bersih terbanyak, mencapai 15.869.275 liter.

Berikutnya, Kabupaten Bogor menerima 7.615.000 liter, Kabupaten Ciamis 3.003.000 liter, dan Kabupaten Pangandaran 2.393.000 liter.

Sementara itu, Kabupaten Purwakarta menerima 1.787.000 liter dan Kota Tasikmalaya sebanyak 1.404.000 liter.

Teten mengatakan, distribusi air bersih dilakukan untuk membantu warga yang kesulitan memperoleh air akibat kekeringan berkepanjangan.

“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak, pemerintah bersama sejumlah instansi telah mendistribusikan 38.695.275 liter air ke berbagai daerah,” ujar Teten, Kamis (15/10).

Di tengah upaya memenuhi kebutuhan air bersih, perubahan cuaca mulai menjadi perhatian.

Berdasarkan prakiraan sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan mulai turun di wilayah selatan Jabar pada minggu ketiga Oktober 2026, sebelum meluas ke wilayah tengah hingga utara.

“Sekarang Jawa Barat berada dalam masa peralihan.

Hujan diprediksi mulai terjadi pada minggu ketiga Oktober dari wilayah selatan, kemudian meluas ke tengah hingga utara,” kata Teten.

Meski hujan mulai berpeluang turun, Jabar belum resmi memasuki musim penghujan. Sebagian wilayah masih berada dalam periode kemarau.

Adapun puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada akhir tahun hingga awal 2027.

Teten mengatakan, prakiraan cuaca tersebut masih dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. Karena itu, BPBD terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca melalui pembaruan prakiraan bulanan maupun tiga bulanan.

Bagi BPBD, peralihan musim bukan sekadar pergantian dari cuaca kering menuju basah. Perubahan kondisi lingkungan juga perlu dicermati, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap pergerakan tanah.

Setelah mengalami kemarau panjang, kondisi tanah di sejumlah kawasan menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai ketika hujan mulai turun. Karakteristik tanah yang relatif gembur di beberapa wilayah Jabar berpotensi meningkatkan risiko longsor.

Teten mengibaratkan tanah yang mengering selama kemarau seperti spons. Ketika hujan datang, air akan terserap ke dalam tanah. “Ibarat spons, kalau kering, air yang masuk pada awalnya akan terserap terlebih dahulu,” katanya.

Bendung Sungai Hulu Musim kemarau tak lagi menjadi kekhawatiran yang sama bagi petani di wilayah utara Kabupaten Bekasi. Kehadiran Bendung Sungai Hulu (BSH) membantu menjaga aliran air menuju persawahan, sehingga petani dapat mengatur waktu tanam tanpa terlalu khawatir lahan mereka kekurangan pasokan irigasi.

Infrastruktur yang mulai beroperasi tahun ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Bekasi menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.

Terlebih, kebutuhan irigasi menjadi semakin penting ketika curah hujan menurun dan risiko kekeringan meningkat.

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi Kabupaten Bekasi Henri Lincoln mengatakan, keberadaan BSH menjadi solusi untuk menjaga pasokan air bagi lahan pertanian di wilayah utara.

“Keberadaan bendung tersebut menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan air irigasi, terutama ketika curah hujan menurun dan lahan pertanian di wilayah utara berisiko mengalami kekeringan,” kata Henri di Cikarang, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (15/10).

Bendung yang berada di perbatasan Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, dan Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, itu memiliki kapasitas tampung hingga 200 meter kubik. Infrastruktur tersebut dilengkapi pintu-pintu air untuk mengatur aliran menuju sejumlah jaringan irigasi.

Sebanyak delapan pintu air mengendalikan aliran menuju Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL), sedangkan dua pintu lainnya mengatur aliran menuju Kali Srengseng. Pengaturan ini menjadi bagian penting untuk memastikan air dapat menjangkau lahan pertanian yang membutuhkan pasokan.

Henri menyebutkan, BSH mampu menyuplai kebutuhan irigasi sedikitnya 7.252 hektare lahan pertanian.

Distribusi air diatur sepanjang 38 kilometer, melintasi tujuh kecamatan, yakni Karangbahagia, Sukatani, Tambelang, Sukawangi, Sukakarya, Cabangbungin, hingga Muaragembong.

Wilayah hilirnya berada di Desa Pantai Harapan Jaya.

“Pada musim kemarau saat ini, Bendung Sungai Hulu menjawab harapan petani di wilayah utara. Pasokan air menjangkau area persawahan sehingga kebutuhan irigasi terpenuhi dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Bagi petani, manfaat bendung tersebut bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan air, melainkan juga kepastian dalam menentukan waktu tanam.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Sukakarya Mulyana, 44, mengatakan aliran air yang lebih teratur memungkinkan petani melaksanakan tanam serempak meskipun kemarau masih berlangsung.

“BSH membantu kelancaran pasokan air sehingga petani dapat melaksanakan tanam serempak tanpa khawatir kekeringan seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Sebelum bendung dibangun, petani harus berupaya sendiri mempertahankan pasokan air. Mereka bergotong royong memasang cerucuk bambu dan batu kali untuk membendung aliran Kali Cikarang, kemudian mengalihkan air menuju Kali Srengseng Hilir agar tetap mengalir ke persawahan.

Cara tersebut menjadi salah satu upaya petani bertahan ketika pasokan air tidak memadai. Kini, keberadaan BSH membantu mengurangi ketergantungan pada cara darurat tersebut melalui pengaturan debit air yang lebih terarah.

“Sekarang, meskipun musim kemarau, pasokan air tetap lancar dan masuk ke area persawahan. Petani bisa tanam serempak karena debit air sudah dapat diatur sehingga kebutuhan irigasi terpenuhi,” kata Mulyana.

Henri menegaskan, pembangunan BSH ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air bagi 7.252 hektare lahan pertanian, sekaligus mendukung program swasembada pangan.

Dengan distribusi air yang terjaga, infrastruktur ini diharapkan membantu petani mempertahankan produktivitas di tengah tantangan musim kemarau.

(gin)


Editor : Inilahkoran