Kerap Diterjang Banjir, Begini Upaya Penanganan Kelurahan Cibabat Kota Cimahi
Banjir yang kerap menerjang sejumlah wilayah di Kota Cimahi saat hujan dengan intensitas tinggi terjadi seolah menjadi persoalan yang tak kunjung bisa dientaskan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - banjir yang kerap menerjang sejumlah wilayah di Kota Cimahi saat hujan dengan intensitas tinggi terjadi seolah menjadi persoalan yang tak kunjung bisa dientaskan.
Sejumlah faktor pun disebut-sebut menjadi faktor penyebab banjir di sejumlah wilayah di Kota Cimahi. Di wilayah Cihanjuang, kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara misalnya, banjir yang kerap terjadi dipicu lantaran kontur wilayah yang berada di dataran tinggi.
"Untuk wilayah Cihanjuang air yang mengalir cukup deras karena wilayahnya berupa dataran tinggi," kata Lurah Cibabat, Muhammad Faisal kepada wartawan, Minggu 26 Januari 2025.
Tak cuma itu, ungkap Faisal, pihaknya tak memungkiri kerap tersumbatnya saluran air oleh sampah kian memperparah kondisi banjir di wilayahnya.
"Daya tampung drainase yang tidak memadai dan diperparah dengan sumbatan sampah di saluran air membuat banjir semakin tak terkendali, sehingga membuat permukiman warga terendam," ungkapnya.
Kendati demikian, Faisal mengaku, pihaknya rutin melakukan monitoring wilayah. Terlebih, ketika hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayahnya.
"Itu perlu dilakukan sehingga tatkala banjir masuk ke permukiman warga pihaknya bisa langsung berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH)," ujarnya.
Selain itu, pihaknya pun berupaya melakukan penanganan sampah dengan berinovasi membuat alat pengolahan sampah ramah lingkungan yang dikelola Karang Taruna RW 16.
"Di kami ada alat pembakaran sampah buatan Karang Taruna RW 16 yang tidak menimbulkan asap. Alat ini akan kami jadikan contoh dalam pembinaan RT dan RW untuk memberikan wawasan tentang pengelolaan sampah," bebernya.
Faisal mengklaim, hadirnya inovasi tersebut memberikan dampak yang cukup signfikan dalam menekan volume sampah di wilayahnya.
"Sampah yang sebelumnya dibuang per minggu bisa turun drastis. Kami berharap alat ini dapat ditiru oleh RW lainnya di Kelurahan Cibabat," imbuhnya.
Tak cuma itu, sambung Faisal, biaya pembuatan alat pengolahan sampah tersebut relatif terjangkau sehingga dapat diadopsi secara luas.
"Ini semua merupakan inisiatif swadaya masyarakat. Kami optimistis program kota ke depan dari wali kota dan wakil wali kota terpilih akan mendukung penanganan sampah ini," imbuhnya.
Selain RW 16, sebut Faisal, RW 15 yang pernah meraih juara satu dalam pengelolaan sampah. Di wilayah tersebut, sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan hewan seperti lele dan unggas.
"Penanganan sampah itu bukan hanya soal alat, tetapi bagaimana memanfaatkannya secara efektif. RW 15 sudah membuktikan hal ini," pungkasnya. ***
Editor : JakaPermana
