Ketika Ruang Belajar Tak Lagi Lapang

KETERBATASAN ruang kelas menjadi perhatian Pemerintah Kota Surabaya. Pembenahan sekolah ditargetkan tuntas pada 2027.

Ketika Ruang Belajar Tak Lagi Lapang
PROGRAM PRIORITAS: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menginstruksikan agar Dinas Pendidikan Kota Surabaya memprioritaskan anggaran pembangunan sarana dan prasarana sekolah.(ANTARA/HO - PEMKOT SURABAYA)

Belajar nyaman semestinya menjadi hak setiap anak. Namun, keterbatasan ruang kelas di SDN Semolowaru IV, Kota Surabaya, membuat sebagian siswa harus mengikuti pelajaran pada siang hari, sementara sebagian lainnya belajar di perpustakaan dengan duduk lesehan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Dia menginstruksikan Dinas Pendidikan Kota Surabaya memprioritaskan anggaran untuk membenahi sarana dan prasarana sekolah, terutama kebutuhan dasar seperti ruang kelas dan kamar mandi.

Eri mengatakan, SDN Semolowaru IV memiliki 12 rombongan belajar, tetapi hanya didukung delapan ruang kelas. Akibatnya, empat rombongan belajar harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari. Keterbatasan ruangan juga membuat perpustakaan digunakan sebagai tempat belajar, meski fasilitasnya belum memadai.

“Dari total 12 rombongan belajar, sekolah tersebut hanya memiliki delapan ruang kelas. Akibatnya, empat rombongan belajar harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari. Sementara itu, sebagian siswa terpaksa belajar di perpustakaan dengan duduk lesehan karena tidak tersedia bangku,” kata Eri, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (11/10).

Bagi siswa, ruang belajar bukan sekadar tempat menerima pelajaran. Ketersediaan ruang kelas, meja, kursi, hingga fasilitas sanitasi turut menentukan kenyamanan mereka selama berada di sekolah. Ketika sarana belum mencukupi, sekolah harus mencari cara agar kegiatan belajar tetap berlangsung.

Kepala SDN Semolowaru IV Surabaya Novita Aprilianti mengatakan, pihaknya telah berupaya mengoptimalkan fasilitas yang ada, termasuk mengatur jadwal pembelajaran. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana membuat upaya tersebut belum mampu menjawab seluruh kebutuhan siswa.

“Sebenarnya kami sudah semampu mungkin untuk memanfaatkan apa yang sudah ada, dengan mengatur jadwal dan lain sebagainya. Tapi kalau sudah terkendala tentang sarana dan prasarana, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi,” ujarnya.

Laporan mengenai kondisi SDN Semolowaru IV mendorong Eri menekankan kembali pentingnya penggunaan anggaran untuk memenuhi kebutuhan mendasar pendidikan.

Menurutnya, pembenahan ruang kelas dan kamar mandi perlu didahulukan sebelum pemerintah mengalokasikan anggaran untuk berbagai kegiatan lain yang dapat membebani wali murid.

“Daripada mengadakan berbagai kegiatan yang membebani wali murid, lebih baik anggaran diprioritaskan untuk membenahi sarana dan prasarana terlebih dahulu, seperti ruang kelas dan kamar mandi,” katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran