Kolaborasi dengan KPU, PWI KBB Dorong Peningkatan Partisipasi Pemilih untuk Pilkada Serentak 2024

Sebagai wujud nyata peran dan partisipasi insan media dalam mendukung suksesnya perhelatan Pilkada Serentak 2020, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan KPU KBB menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi di Sekretariat PWI KBB di Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat.

Kolaborasi dengan KPU, PWI KBB Dorong Peningkatan Partisipasi Pemilih untuk Pilkada Serentak 2024
Sebagai wujud nyata peran dan partisipasi insan media dalam mendukung suksesnya perhelatan Pilkada Serentak 2020, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan KPU KBB menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi di Sekretariat PWI KBB di Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Sebagai wujud nyata peran dan partisipasi insan media dalam mendukung suksesnya perhelatan Pilkada Serentak 2020, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan KPU KBB menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi di Sekretariat PWI KBB di Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat.

Mengusung tema 'Peran Media dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih Pilkada Serentak 2024', kegiatan tersebut dihadiri Ketua Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat (Parmas) KPU KBB, Deni Firman Rosadi, serta seluruh jajaran pengurus dan anggota PWI KBB.

Acara yang dipandu moderator sekaligus jurnalis senior INews Jabar, Adi Haryanto mengupas pelbagai persiapan dan tahapan jelang perhelatan Pilkada Serentak 2024. Sekaligus, mendongkrak partisipasi pemilih.

Ketua PWI KBB, Hendra Hidayat mengatakan, selain membahas pelbagai tahapan, sosialisasi ini bertujuan untuk merealisasikan target pemilih mencapai 90 persen melalui peran media pada perhelatan Pilkada Serentak 2024 di KBB.

"Ini bentuk komitmen PWI Bandung Barat dalam mensukseskan Pilkada Serentak 2024," kata Hendra usai kegiatan, Jumat 8 Oktober 2024.

"Tentu dengan partisipasi aktif semua pihak peningkatan partisipasi masyarakat diharapkan akan meningkatkan," sambungnya.

Hendra menilai, kolaborasi antara media dan penyelenggara Pilkada dalam hal ini KPU KBB sangat diperlukan untuk mewujudkan pesta demokrasi di KBB yang jujur dan adil.

"Dalam perhelatan Pilkada ini, media tentunya memiliki peran untuk menyebarluaskan informasi dengan pemberitaan yang faktual," ujarnya.

"Sehingga diharapkan bisa menarik perhatian guna menstimulus keinginan masyarakat yang terbagi kedalam beberapa kelompok usia untuk menggunakan hak pilihnya," sambungnya.

Tak hanya itu, pihaknya pun berharap sosialisasi ini bisa meningkatkan peran media dalam meningkatkan partisipasi pemilih, sehingga masyarakat turut berperan dalam memilih pemimpin, baik Bupati dan Wakil Bupati serta Gubernur dan Wakil Gubernur sesuai dengan kredibilitasnya.

"Dengan adanya sosialisasi tentu harapannya untuk lebih meningkatkan peran media dalam hal meningkatkan partisipasi pemilih pada Pilkada di Bandung Barat," ujarnya.

"Kami juga mengimbau masyarakat untuk memilih pemimpin yang berintegritas serta track record yang kredibel," tandasnya.

Sementara itu Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia KPU KBB Deni Firman Rosadi memaparkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada dan Pemilu terdapat perbedaan data. 

"Contohnya di Pemilu 2024 kemarin sekitar 80 persen lebih yang menggunakan hak pilihnya dari total 1.317.866 DPT," sebutnya.

Sementara itu, ungkap Deni, pada Pilkada Kabupaten Bandung Barat pada 2019 lalu, partisipasi pemilih hanya di angka 70 persen lebih. Dilihat dari jumlah daftar pemilih tetap nya pun ada sedikit penurunan dibandingkan Pemilu 2024, dimana jumlah DPT untuk Pilkada Serentak 2024 sebanyak 1.309.568 jiwa. 

Berdasarkan data tersebut dikatakan, maksimal partisipasi pemilih sebanyak 84,43 persen dari DPT.

"Memang jika dilihat secara utuh 84,43 persen itu sudah maksimal. Karena kita bisa melihat beberapa data yang ditarik data penduduk yang tidak ada misalnya," ungkapnya. 

"Kebijakan tersebut perlu keikutsertaan semua pihak mulai dari pemerintah desa, pemerintah daerah (Disdukcapil)," jelas Deni.

Guna meningkatkan partisipasi pemilih, terang Deni, maka harus ada inovasi dalam hal sosialisasi. Selain itu perlu dilihat secara segmentasi generasi dan jenis kelamin. 

Menurutnya, beda generasi beda pula pendekatannya. Adapun dilihat dari data pemilih di Bandung Barat, sebanyak 19 persen merupakan generasi Z, 31 persen generasi milenial, 30 persen gen X lalu sisanya generasi baby boomers keatas. 

"Tapi hari ini bentuk sosialisasinya dari berbagai lembaga sama. Hanya sebatas menginformasikan tentang ABCD tanpa adanya pemantik," tuturnya.

Namun, ungkap Deni, akan berbeda treatment-nya kalau hari ini sosialisasi dilakukan di taman-taman Gen-Z dan mereka dipantik dari sisi pengetahuan yang mereka mudah mengaksesnya.

"Karena tidak mungkin GenerasiZ kita lebih menawarkan pekerjaan misalnya. Karena rata-rata mereka masih duduk di Bangku SMA atau baru masuk perguruan tinggi," paparnya. 

Kemudian, akan berbeda lagi jika sosialisasi dilakukan di tengah-tengah generasi di atasnya yang sudah berumah tangga dan sudah memiliki pekerjaan. 

"Ketika itu jadi salah satu mitigasi di berbagai lembaga tentunya saya yakin tingkat partisipasinya akan meningkat," ujarnya.

Selain itu, sambung Deni, sosialisasi juga harus berdasarkan jenis kelamin. Dimana saat ini pemilih laki-laki lebih banyak dibandingkan pemilih perempuan. 

Mereka harus terlebih dahulu di mitigasikan apa yang bisa memantik perempuan untuk bisa menyampaikan hak pilihnya di Pilkada Serentak yang akan dilaksanakan pada 27 November 2024.

"Ketika dilihat DPT antara jumlah DPT antara pemilih laki-laki dan perempuan itu hanya 13.000 selisihnya," ujarnya.

"Artinya kita bisa menstimulasi pemilih perempuan saya yakin partisipasi nya bisa meningkat. Karena perempuan biasanya sifatnya mengajak," pungkasnya.*** 


Editor : JakaPermana