Longsor TPA Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Dedi Mulyadi Minta Pengelolaan Diperbaiki
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam atas peristiwa longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam atas peristiwa longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, yang menewaskan sejumlah warga.
Peristiwa yang terjadi di tempat pembuangan akhir sampah utama milik Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta itu menimbulkan korban jiwa serta masih menyisakan korban yang belum ditemukan.
“Ada berita duka yang perlu saya sampaikan telah terjadi longsor di TPA Bantar Gebang, Kota Bekasi. TPA ini merupakan tempat pembuangan sampahnya warga Jakarta yang dikelola oleh Pemprov Daerah Khusus Jakarta,” ujar Dedi Mulyadi, Senin 9 Maret 2026.
Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan awal, bencana tersebut menyebabkan empat orang meninggal dunia, sementara beberapa lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
“Semoga yang meninggal dunia diterima iman dan Islamnya, diampuni segala dosanya dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala,” ucapnya.
Dedi berharap proses evakuasi dapat segera menemukan korban yang masih tertimbun material sampah. Ia juga menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan di lokasi tersebut agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Jadikan musibah ini sebagai pembelajaran bagi kita agar kita senantiasa waspada dalam setiap saat karena peristiwa musibah seringkali terjadi tanpa diduga,” katanya.
Sebelumnya, longsor terjadi pada Minggu 8 Maret 2026 kemarin, sekitar pukul 14.30 WIB di Zona IV TPST Bantargebang. Gunungan sampah setinggi sekitar 50 meter dilaporkan runtuh dan menimbun sejumlah pekerja serta pemulung di area tersebut.
Tragedi ini menambah daftar panjang insiden di kawasan pengolahan sampah raksasa tersebut. Catatan kelam pernah terjadi pada 2003 ketika longsor menimpa permukiman warga, serta runtuhnya Zona 3 pada 2006 yang juga menelan korban jiwa dan menimbun puluhan pemulung.
Masalah keselamatan di lokasi itu kembali mencuat pada Januari 2026 saat landasan di area pembuangan amblas dan menyeret tiga truk sampah ke dasar sungai. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan adanya persoalan sistemik dalam pengelolaan kawasan pembuangan sampah terbesar di Indonesia itu.***
Editor : JakaPermana
