Operasional Lancar, Angkot Pintar Kota Bandung Masih Terkendala Biaya Investasi

program angkot pintar di Kota Bandung mulai menunjukkan capaian positif setelah berjalan selama satu tahun.

Operasional Lancar, Angkot Pintar Kota Bandung Masih Terkendala Biaya Investasi
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan membahas program angkot pintar yang sukses secara operasional namun masih terkendala biaya armada listrik./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Di tengah upaya mendorong transportasi publik yang lebih ramah lingkungan, program angkot pintar di Kota Bandung mulai menunjukkan capaian positif setelah berjalan selama satu tahun meski tantangan utama kini bergeser pada persoalan pembiayaan armada listrik yang masih tergolong mahal.

Selama periode tersebut, program itu dinilai berhasil dari sisi operasional di lapangan. Namun tingginya biaya pengadaan kendaraan listrik dibanding angkot konvensional, membuat proses pengembangan layanan belum dapat dilakukan secara masif.

“Kalau secara operasional, angkot pintar sudah berjalan dengan baik. Tetapi kita tidak bisa mengabaikan, bahwa biaya pengadaannya cukup tinggi. Ini yang harus kita atur lewat skema pembiayaan yang tepat,” kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Rabu (1/7/2026).

Saat ini menurut dia, pemerintah kota bersama Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dinas Perhubungan Kota Bandung dan Kementerian Perhubungan tengah menyusun mekanisme pembiayaan bersama. Tujuannya agar beban investasi tidak hanya ditanggung satu pihak.

“Prinsipnya harus ada kerja sama antara pemerintah kota, provinsi dan pusat. Karena kalau tidak, pengadaan armada akan terlalu berat jika ditanggung sendiri,” ucapnya.

Di lapangan sambung dia, operasional angkot pintar tetap dijalankan koperasi angkutan kota seperti Kobutri, Kopamas dan Kobanter yang selama ini menjadi bagian penting dari sistem transportasi di Kota Bandung.

Selain itu, pemerintah juga masih mengkaji rencana konsolidasi kepemilikan angkot yang dinilai cukup kompleks karena melibatkan banyak pemilik kendaraan dengan kondisi usaha yang berbeda-beda.

Farhan menyampaikan, transformasi tersebut tidak hanya sebatas mengganti armada lama. Namun juga membangun sistem transportasi publik yang lebih terstruktur, dan berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar penggantian kendaraan, tapi perbaikan sistem. Karena itu model bisnisnya harus benar-benar dipastikan bisa berjalan. Kami berharap dengan adanya skema pembiayaan yang lebih terkoordinasi, transformasi menuju transportasi publik berbasis listrik dapat terus berlanjut tanpa membebani operator di lapangan," ujar dia.

Diketahui, Kota Bandung memiliki inovasi transportasi publik berupa angkutan kota listrik bernama angkutan kota listrik Bandung (Angklung). Kendaraan itu, sedang diuji coba pada rute Gunung Batu - Stasiun Bandung sebagai langkah awal menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Dengan kapasitas hingga 14 penumpang, angkot pintar tersebut menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan modern. Fasilitas yang tersedia meliputi AC, akses WiFi, layar LCD TV dan kamera belakang yang membantu meningkatkan keamanan selama perjalanan.***


Editor : JakaPermana