Pengamat Unpad: Media Sosial Jadi Modal Politik Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029
Rumor duet Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029 dinilai belum lebih dari sekadar spekulasi politik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Rumor duet Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029 dinilai belum lebih dari sekadar spekulasi politik.
Kepala Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) Mudiyati Rahmatunnisa mengatakan, dinamika politik menuju Pilpres 2029 masih sangat cair sehingga berbagai kemungkinan masih terbuka.
Menurut Mudiyati, pernyataan Dedi yang memilih fokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Jabar tidak otomatis dapat dimaknai sebagai penolakan terhadap peluang maju di tingkat nasional.
"Kalau saya menanggapi pemberitaan tentang wacana pemasangan KDM dengan Gibran, itu wajar-wajar saja. Namanya juga wacana. Tetapi yang menarik adalah respons Pak KDM yang mengatakan bahwa beliau ingin tetap fokus pada kinerjanya sebagai gubernur," kata Mudiyati, Rabu (23/9/2026).
Dia meminta publik tidak terburu-buru menerjemahkan sikap tersebut, sebagai keputusan politik.
"Buat saya, kita harus hati-hati dengan pernyataan tersebut. Itu bukan berarti beliau total menolak, tetapi juga bukan berarti total menerima. Namanya politik memang seperti itu," ujarnya.
Mudiyati mengatakan, rumor duet Dedi-Gibran bisa saja menjadi bagian dari upaya mengukur respons publik terhadap kemungkinan konfigurasi politik tertentu.
"Kalau melihat hasil-hasil survei yang menunjukkan dukungan kepada KDM cukup besar, kalau kemudian ada yang mewacanakan pasangan seperti itu, ya mungkin ini masih prediksi awal dan sah-sah saja. Bisa jadi ada agenda tertentu untuk memunculkan wacana tersebut sekaligus melakukan cek ombak," tuturnya.
Lantaran belum terdapat deklarasi maupun keputusan partai, menurut Mudiyati, pembicaraan mengenai duet tersebut belum dapat dianggap sebagai konfigurasi resmi Pilpres 2029.
"Jadi, ini sangat cair. Menurut saya, ini baru bisa disebut sebagai spekulasi politik. Wajar saja, tetapi belum menjadi konfigurasi resmi karena belum ada deklarasi ataupun keputusan partai," katanya.
Media Sosial Dongkrak Popularitas Dedi Mulyadi
Di tengah munculnya berbagai spekulasi tersebut, Mudiyati menilai ada satu faktor yang membuat nama Dedi cepat mencuat di luar Jawa Barat, yakni kekuatan media sosial.
Aktivitas Dedi sebagai kepala daerah tidak hanya dikonsumsi masyarakat Jawa Barat. Konten yang diproduksi dan disebarluaskan melalui berbagai platform digital, membuat aktivitasnya memiliki jangkauan jauh lebih luas.
"Menurut saya, salah satunya karena the power of media sosial yang luar biasa. Aktivitasnya mungkin di Jawa Barat, tetapi gaungnya bisa sampai ke Papua, bahkan ke luar negeri. Ini juga mirip dengan ketika zaman awal-awal Jokowi, simpatisannya bisa sampai ke Malaysia dan berbagai tempat lainnya," ujar Mudiyati.
Dia melihat pola tersebut memiliki kemiripan dengan fenomena Joko Widodo, ketika masih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun, Mudiyati menekankan media sosial bukan satu-satunya faktor yang menentukan perjalanan seorang figur menuju panggung nasional.
"Kalau mau mengatakan polanya hampir mirip, saya pikir faktor media sosial justru sangat besar. Tetapi sekali lagi, media sosial bukan satu-satunya faktor yang kemudian membuat dukungan langsung mengalir," ucapnya.
Menurut Mudiyati, dinamika politik dapat mengubah kalkulasi yang hari ini terlihat cukup jelas. Sebab itu, prediksi mengenai arah politik Dedi pada 2029 masih sangat mungkin berubah.
"Akan ada banyak dinamika yang terjadi. Prediksi kita sekarang mungkin A, tetapi namanya politik, bisa saja pada hari H menjadi Z karena banyak faktor," katanya.
Dedi Mulyadi Dinilai Punya Modal Politik
Selain popularitas, Dedi dinilai memiliki modalitas politik yang tidak kecil. Pengalaman panjang di dunia politik dan birokrasi menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat posisi politiknya.
"Persis. Beliau sudah malang melintang di dunia politik. Birokrasi juga sudah khatam," kata Mudiyati.
Menurut dia, pengalaman tersebut membuat Dedi relatif memahami bagaimana mengelola dan menggerakkan modal politik yang dimilikinya.
"Jadi, bagaimana beliau memiliki modalitas dan bagaimana memanfaatkan serta menggerakkan atau memobilisasi modal-modal yang dimiliki, saya pikir beliau sudah punya pengalaman," ujarnya.
Namun, Mudiyati mengingatkan jika modal politik dan peluang tidak otomatis berujung pada pencalonan di tingkat nasional.
"Peluangnya besar. Tetapi sekali lagi, peluang tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa semuanya akan sesuai dengan skenario," katanya.
Dia menyebut banyak kepentingan dan manuver politik yang dapat mengubah keputusan seorang figur. Dengan demikian, rencana politik yang dibangun sejak awal belum tentu berakhir sesuai skenario semula.
Editor : Doni Ramdhani

