Pernyataan Prabowo Soal MSCI Viral di Medsos, Tuai Kritik Pedas Netizen
Pernyataan Presiden Prabowo yang menegaskan Indonesia tak takut pada MSCI dan minta hemat besar-besaran viral di medsos.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Cuplikan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam agenda Sidang Kabinet Paripurna kembali menjadi perbincangan hangat publik di media sosial.
Kali ini, perhatian netizen tertuju pada pernyataan tegas Prabowo terkait lembaga indeks pasar saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam tayangan video yang beredar di platform Threads, Presiden Prabowo menegaskan keberanian bangsa Indonesia dalam menghadapi tekanan dari pihak luar, termasuk lembaga keuangan internasional.
"Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut pada siapa pun dan tidak akan gentar. Kita tidak takut, kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban serta tidak mengenal menyerah. Kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran," tutur Presiden Prabowo yang disambut tepuk tangan riuh dari audiens Sidang Kabinet.
Tanggapan Kritis Warganet di Media Sosial
Pernyataan berapi-api tersebut langsung memicu gelombang tanggapan dan kritik dari para warganet di media sosial.
Salah satu akun bercentang biru, drg_yurika, menyuarakan keprihatinannya atas pola pikir dan respons yang disampaikan oleh pemerintah terkait isu MSCI.
Menurutnya, MSCI pada dasarnya membutuhkan transparansi data dan regulasi pasar, bukan Gertakan atau retorika politik.
Ia menilai imbauan penghematan bagi masyarakat tidak tepat sasaran dan justru mendesak pemerintah untuk meninjau ulang anggaran program-program besar daerah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tanggapan senada juga disampaikan oleh pengguna lain, seperti akun nabilaishma, yang menyoroti reaksi para jajaran pejabat yang hadir dalam ruangan. Ia mengaku miris melihat riuh tepuk tangan dari para audiens yang menyambut pernyataan tersebut tanpa memberikan penilaian kritis terhadap dampak ekonomi yang sebenarnya.
Editor : Firda Rachmawati
