Personel Damkar Bandung Baru 300 Orang, Diskarmatan Perkuat Pencegahan Berbasis Warga

Diskarmatan Kota Bandung baru memiliki sekitar 300 personel dari kebutuhan ideal 500 orang. Pencegahan kebakaran diperkuat melalui relawan dan edukasi warga.

Personel Damkar Bandung Baru 300 Orang, Diskarmatan Perkuat Pencegahan Berbasis Warga
Diskarmatan Kota Bandung baru memiliki sekitar 300 personel dari kebutuhan ideal 500 orang. Pencegahan kebakaran diperkuat melalui relawan dan edukasi warga.

INILAHKORAN.ID– Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung masih menghadapi keterbatasan personel dalam upaya pencegahan kebakaran. Dari kebutuhan ideal sebanyak 500 personel, jumlah yang tersedia saat ini baru sekitar 300 orang.

Kepala Bidang Pencegahan Diskarmatan Kota Bandung, Adhli Al Afwan Izwar, mengatakan pencegahan kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Kesadaran dan partisipasi masyarakat diperlukan agar potensi kebakaran dapat dikenali lebih awal sebelum berkembang menjadi musibah.

“Selama ini kalau melihat atau mendengar tentang pemadam kebakaran, konteksnya lebih kepada memadamkan api. Sekarang kami ingin mengubah paradigma, bahwa pemadam kebakaran seharusnya hadir sebelum permasalahan kebakaran terjadi. Itulah tujuan kami di bidang pencegahan,” kata Adhli Al Afwan Izwar, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Adhli, jumlah personel yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan pelayanan berdasarkan jumlah penduduk Kota Bandung yang mencapai sekitar 2,5 juta jiwa. Dengan mengacu pada rasio satu petugas untuk setiap 5.000 penduduk, kebutuhan ideal personel diperkirakan mencapai 500 orang.

Keterbatasan tersebut mendorong Diskarmatan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari sistem pencegahan kebakaran. Salah satu langkah yang dikembangkan adalah pembentukan relawan pemadam kebakaran (Redkar).

Relawan diharapkan membantu memberikan edukasi, memetakan potensi bahaya, serta memeriksa sarana dan prasarana proteksi kebakaran di lingkungan masing-masing.

"Peran relawan dibutuhkan, agar upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada jangkauan petugas dinas. Dengan keterlibatan warga, informasi mengenai potensi bahaya kebakaran di lingkungan permukiman diharapkan dapat diketahui lebih cepat dan ditindaklanjuti secara tepat," ucapnya.
Diskarmatan Bandung Uji Coba Penghubung di Kecamatan
Selain mengembangkan Redkar, Diskarmatan Kota Bandung menguji pendekatan berbasis kewilayahan melalui penempatan satu personel penghubung di setiap kecamatan. Uji coba tersebut dilakukan di Kecamatan Sukasari dan Bojongloa Kidul untuk memperkuat koordinasi antara dinas, kecamatan, kelurahan, dan masyarakat.

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui edukasi kepada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak PAUD, TK, dan SD hingga masyarakat umum. Materi edukasi mencakup pengenalan potensi bahaya, langkah pencegahan, serta tindakan yang tepat ketika kebakaran terjadi.

Adhli mengingatkan, kebakaran dapat berawal dari persoalan sederhana di rumah, seperti meninggalkan kompor saat memasak, menggunakan selang gas yang sudah tidak layak, hingga mengabaikan instalasi listrik yang bermasalah.

Karena itu, kebiasaan memeriksa kondisi peralatan dan mengenali risiko menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran.

“Dalam lima menit awal, itu menentukan apakah kebakaran akan membesar dan membahayakan lingkungan ataupun jiwa. Apabila kebakaran bisa diantisipasi atau dilakukan pemadaman dini, dampaknya tentu sangat besar. Lebih baik lagi kalau kebakaran tidak terjadi,” ujar Adhli.
Gedung Bertingkat Juga Jadi Sasaran Pencegahan
Selain menyasar lingkungan permukiman, Diskarmatan mendorong dunia usaha meningkatkan kesiapan menghadapi kebakaran, terutama pada gedung bertingkat.

Pengelola gedung perlu memastikan sarana proteksi kebakaran berfungsi dengan baik, jalur evakuasi tersedia, serta pembagian tugas penanganan keadaan darurat dipahami oleh setiap orang yang berada di dalam gedung.

Diskarmatan juga bekerja sama dengan kalangan akademisi dalam penelitian fire resilience index (Firli) atau indeks ketangguhan kebakaran. Bersamaan dengan itu, penyusunan rencana induk sistem proteksi kebakaran dilakukan untuk mendukung penguatan upaya pencegahan di Kota Bandung.

Adhli menegaskan, ketangguhan menghadapi kebakaran tidak hanya diukur dari kemampuan memadamkan api, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mencegah kejadian dan meminimalkan dampaknya.

Karena itu, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih aman dari risiko kebakaran.

“Mari kita mulai membiasakan diri menjadikan budaya pencegahan sebagai kebiasaan baru di masyarakat. Kenali risiko yang berpotensi menjadi kebakaran, bagaimana mencegahnya, bagaimana memeriksanya dan bagaimana melaporkannya kepada dinas,” pungkasnya.***


Editor : JakaPermana