Potret Kekeringan di Kopi Luhur: Air Langka Warga NelangsaAir Nelangsa
HARI-hari belakangan ini terasa lebih berat bagi warga Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Krisis air bersih
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Maman Suharman
HARI-hari belakangan ini terasa lebih berat bagi warga Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Krisis air bersih mengacaukan kehidupan mereka.
Di tengah terik kemarau, gemericik air yang biasanya melengkapi riuh aktivitas dapur dan kamar mandi mendadak hilang. Sudah sepekan berlalu, keran-keran rumah mereka membisu, tak lagi mengalirkan air.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dataran tinggi ini, air bersih telah menjadi barang mewah yang dinanti saban hari.
Bukan hanya aliran pipa yang terhenti, sumur-sumur galian milik warga pun ikut mengering hingga ke dasarnya.
Bak penampungan melompong dan mesin pompa air yang rusak karena dipaksa menyedot tanah kering menjadi pemandangan pilu yang kini menimpa pemukiman tersebut.
Bahkan, bagi sebagian keluarga, derita ini bukan cerita baru. Beberapa sumur warga dilaporkan sudah tidak lagi mengeluarkan setetes air pun sejak empat tahun terakhir, memaksa mereka bertahan dalam keterbatasan yang membendung asa bertahun-tahun.
Duka dan kesulitan warga Kopi Luhur mengetuk hati Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati. Pada Rabu (14/10), dia menyusuri pemukiman terdampak untuk menyaksikan langsung perjuangan warga dan mendengarkan keluh kesah mereka.
Melihat langsung kondisi sumur-sumur yang mengering dan wadah penampungan air warga yang kosong melompong, raut keprihatinan tak mampu disembunyikan dari wajah Farida.
“Alhamdulillah, hari ini saya melakukan kunjungan ketiga ke lokasi kekeringan. Saya menerima aspirasi masyarakat yang menyampaikan bahwa sudah satu minggu air tidak mengalir ke wilayah ini. Tadi saya langsung menghubungi PDAM agar penyaluran air bisa segera dilakukan,” tutur Farida di tengah peninjauannya.
Kondisi geografis Kopi Luhur yang berada di dataran tinggi memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, Farida menegaskan bahwa letak geografis tidak boleh menjadi alasan hilangnya hak warga atas air bersih.
“Wilayah RT 6 RW 8 ini termasuk titik yang cukup tinggi. Kondisinya sangat kering, sumur-sumur yang kami periksa juga sudah tidak ada airnya. Karena itu, kebutuhan air bersih warga harus menjadi perhatian bersama agar aktivitas sehari-hari tetap bisa berjalan,” lanjutnya penuh empati.
Sebagai langkah cepat, Pemerintah Kota Cirebon bergerak menggalang koordinasi rapat dengan PDAM untuk mempercepat pengiriman armada tangki air bersih.
Harapannya, bantuan air segar dapat segera menyiram dahaga dan meringankan beban warga, terutama mereka yang berada di titik terparah.
Meski jadwal pasti dan volume air yang akan didistribusikan masih dalam tahap finalisasi, komitmen pemerintah untuk hadir di tengah warga terus dipastikan.
Farida menegaskan penanganan krisis ini akan disesuaikan dengan kondisi medan agar tak ada satu pun warga yang terlewatkan. Tak hanya itu, pemantauan berkala juga disiapkan untuk mengantisipasi potensi krisis serupa di sudut-sudut kota lainnya.
Sembari menantikan armada tangki air tiba, senyum dan ketabahan warga Kopi Luhur menjadi pengingat betapa berharganya setiap tetes air. Pesan untuk saling menjaga dan hemat menggunakan air menjadi tumpuan sementara di masa sulit ini.
“Saya mengimbau masyarakat, khususnya warga Kopi Luhur yang terdampak kekeringan, untuk tetap menghemat penggunaan air. Pemerintah akan terus berupaya agar bantuan dan penyaluran air bisa menjangkau warga secara merata,” imbau Farida.
Kini, warga Kopi Luhur menatap jalan pemukiman mereka dengan penuh harap, menantikan kedatangan tangki-tangki air yang membawa kehidupan dan kesegaran kembali ke rumah-rumah mereka. (bsf)
Editor : Inilahkoran
