Raksasa Terluka Dihantam Badai Cedera

LIVERPOOL menatap ujian terberat mereka musim ini saat menantang LASK Linz di Raiffeisen Arena, Austria, pada Rabu (14/1) malam WIB.

Raksasa Terluka Dihantam Badai Cedera
Net

Oleh: Bsafaat

Bagi Si Merah, pertandingan ini bukan sekadar taktik di atas lapangan hijau. Pelatih Andoni Iraola harus memutar otak mengakali tubuh-tubuh yang mulai kelelahan dan dihantam badai cedera agar tidak tumbang.

Ruang perawatan The Reds memang kian sesak. Impian para pemain muda seperti Hugo Ekitike, Conor Bradley, dan Giovanni Leoni untuk merumput harus tertahan lebih lama akibat cedera jangka panjang.

Belum lagi kepulangan Cody Gakpo dan Alexander Isak dari tugas membela negara yang menyisakan kelelahan fisik yang teramat sangat.

Namun, pukulan paling telak yang menguji ketegaran tim adalah kondisi Dominik Szoboszlai. Gelandang asal Hungaria itu pulang membawa rasa sakit di otot hamstringnya demi membela negara.

Kini Szoboszlai justru harus berlatih terisolasi secara terbatas.

“Dominik kembali dari tim nasional dengan rasa tegang dan beban berlebih pada ototnya. Kami mencoba melindunginya dalam latihan, menempatkannya sebagai pemain netral, tetapi dia masih merasakan sedikit gangguan,” ujar Iraola Musuh Liverpool saat ini bukan hanya LASK Linz, melainkan waktu dan rasa lelah. Bayangkan saja, tubuhtubuh atletis ini dipaksa bertanding empat kali hanya dalam waktu 10 hari. Belum sempat napas pulih, mereka sudah harus berkemas dan terbang membelah langit menuju Austria.

“Benar bahwa sekarang kami memainkan empat pertandingan dalam 10 hari.

Ini sangat sulit. Dalam dua hari kami harus terbang ke Austria, dan saya rasa memulihkan kondisi para pemain akan menjadi perjuangan tersendiri,” keluh Iraola.

Manajemen fisik dan hati kini menjadi kunci. Di depan mata, benteng jadwal super padat—delapan pertandingan dalam 28 hari—sudah menanti.

Iraola kini berdiri di persimpangan jalan: memaksakan mereka yang cedera demi gengsi eropa, atau mengistirahatkan mereka demi masa depan musim ini.

Di Austria nanti, kita tidak hanya akan melihat taktik sepak bola, tetapi juga sebuah perjuangan manusia melawan batas kemampuan fisiknya. (bsf)


Editor : Inilahkoran