Revitalisasi 192 Sekolah: Ruang Nyaman Belajar Aman

HAMPIR 95 persen sekolah di Kabupaten Bandung membutuhkan pembenahan. Revitalisasi menjadi tumpuan memperbaiki fasilitas pendidikan.

Revitalisasi 192 Sekolah: Ruang Nyaman Belajar Aman
ANGGARAN TERBATAS: Bupati Bandung Dadang Supriatna berbincang dengan sejumlam siswa di Kabupaten Bandung. Kebutuhan revitalisasi sekolah di Kabupaten Bandung masih menjadi pekerjaan besar. Dari sekitar 1.600 sekolah yang ada, hampir 95 persen di antaranya dinilai membutuhkan pembenahan sarana dan prasarana pendidikan.(INILAH/DANI RAHMAT NUGRAHA)

Oleh : Dani Rahmat Nugraha

Kebutuhan ruang belajar yang layak masih menjadi tantangan bagi dunia pendidikan Kabupaten Bandung. Dari sekitar 1.600 sekolah yang ada, hampir 95 persen dinilai membutuhkan pembenahan sarana dan prasarana. Sementara kemampuan anggaran daerah belum cukup untuk menjangkau seluruh kebutuhan tersebut.

Bupati Bandung Dadang Supriatna mengakui, pemerintah kabupaten belum mampu menangani seluruh revitalisasi sekolah hanya dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dukungan pemerintah pusat pun menjadi tumpuan untuk memperbaiki fasilitas pendidikan yang belum layak. “Kalau mengandalkan uang APBD, jujur saat ini tidak mampu,” kata Dadang di Soreang, Minggu (18/10).

Di tengah keterbatasan itu, bantuan revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi angin segar bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung. Sebanyak 192 sekolah negeri dan swasta menerima bantuan dengan total anggaran sekitar Rp137 miliar.

SMPN 2 Cicalengka menjadi salah satu penerima manfaat program tersebut. Revitalisasi meliputi perbaikan tujuh ruang belajar, pembangunan dua ruang kelas baru (RKB), serta penyediaan tujuh pintu toilet.

Bagi Dadang, perbaikan fasilitas bukan sekadar membenahi bangunan. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman diharapkan dapat menunjang aktivitas siswa sekaligus mendukung tenaga pendidik dalam menjalankan tugasnya.

“Mudah-mudahan ini bisa lebih bermanfaat,” ujarnya.

Peningkatan kualitas pendidikan, menurut Dadang, tidak berhenti pada pembangunan fisik sekolah. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga perlu diiringi kemampuan siswa dan guru untuk memahami informasi secara kritis.

Digitalisasi pembelajaran yang menjadi bagian dari program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto membuka peluang bagi proses belajar yang lebih interaktif. Namun, kemudahan mengakses informasi perlu disertai kecakapan dalam memilah dan memverifikasi sumber.

Dadang mengingatkan agar teknologi tidak justru membuat siswa keliru memahami materi. Informasi yang valid harus tetap menjadi pegangan dalam kegiatan belajar mengajar.

“Jangan sampai kita salah menafsirkannya. Sumber-sumbernya tetap harus kita pegang,” katanya.

Selain fasilitas dan teknologi, pemenuhan gizi siswa juga menjadi perhatian. Dadang menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus menunjang kemampuan mereka dalam menyerap pelajaran. (gin)


Editor : Inilahkoran