Sawah Produktif Dukungan Defisit
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Hamparan sawah di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, masih menjadi tumpuan produksi pangan di tengah perkembangan kawasan permukiman.Namun, potensi pertanian di wilayah ini belum sepenuhnya ditopang sarana yang memadai, mulai dari mesin pemanen hingga pompa air untuk mengairi persawahan.
Persoalan tersebut mengemuka saat Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan M Mardiono menghadiri panen raya padi bersama Kelompok Tani Sumber Tani Jaya di Bojongsoang, Minggu (11/10).
Dalam kesempatan itu, dia berdialog langsung dengan petani untuk menyerap aspirasi sekaligus mengidentifikasi hambatan produksi di lapangan.
Bagi Mardiono, mendengar keluhan petani menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Aspirasi yang diterima akan menjadi bahan tindak lanjut agar kebijakan pemerintah lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah.
“Ada pesan-pesan yang saya catat dan insyaallah akan saya tindak lanjuti, baik yang dari kelompok tani maupun dari para petani,” kata Mardiono.
Salah satu persoalan yang mencuat ialah keterbatasan mesin pertanian.
Perwakilan Kelompok Tani Sumber Tani Jaya, Rizal, menyebut Kecamatan Bojongsoang memiliki lahan padi sekitar 1.500 hektare.
Wilayah tersebut juga memasok hasil panen ke sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan Cianjur.
Meski memiliki potensi produksi yang besar, petani masih menghadapi kendala ketika memasuki masa panen. Ketersediaan mesin pemanen dan traktor belum mencukupi kebutuhan, terutama untuk mempercepat panen dan menyiapkan lahan menjelang musim tanam kedua.
“Logikanya, Kabupaten Bandung itu surplus padi, tapi kadang pascapanen kita masih kesusahan karena alat mesin pemanennya masih kekurangan,” ujar Rizal.
Selain mesin pertanian, ketersediaan air menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian. Sebagian petani masih mengandalkan air sungai untuk mengairi sawah. Lokasi sumber air yang berada di seberang kawasan persawahan membuat pompa air dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pertanian.
Menanggapi hal tersebut, Mardiono meminta kelompok tani segera mendata kebutuhan pompa air.
Pendataan diperlukan agar kebutuhan di lapangan dapat diketahui dan menjadi dasar pengajuan bantuan kepada pemerintah.
“Berapa kebutuhannya untuk pompa air, supaya nanti tidak kesulitan manakala pada saat musim panen pompa airnya tercukupi,” katanya.
Mardiono mengakui, pemenuhan kebutuhan tersebut memerlukan proses.
Karena itu, koordinasi antara kelompok tani dan pemerintah menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi kebutuhan sarana pertanian secara lebih terarah.
Ia juga menyoroti persoalan ketersediaan solar untuk mengoperasikan peralatan pertanian. Menurutnya, jangan sampai petani kesulitan memperoleh bahan bakar akibat kendala penyaluran di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Mardiono meminta aparat keamanan setempat turut membantu mengawal kebutuhan petani agar kegiatan produksi tidak terganggu.
Ia menilai pelaksanaan kebijakan di lapangan harus sejalan dengan kebutuhan sektor pertanian.
“Ini enggak nyambung antara kebijakan negara, kebutuhan negara dengan aparatur negara. Ini harus kita sambungkan,” tegasnya.
Di luar kebutuhan sarana produksi, perlindungan lahan sawah produktif juga menjadi perhatian.
Mardiono mengapresiasi petani Bojongsoang yang tetap mempertahankan lahan pertanian di tengah perkembangan kawasan permukiman. Menurutnya, keberadaan sawah perlu dipertahankan agar potensi produksi pangan tidak tergerus alih fungsi lahan.
Ia menyatakan akan berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mendorong perlindungan kawasan pertanian. Upaya tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan pemenuhan kebutuhan petani.
Mardiono juga menawarkan pengembangan proyek percontohan bagi kelompok tani yang memiliki lahan minimal 30 hektare. Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan produksi dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Ia menilai kondisi tanah perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap produktivitas pertanian.
Berdasarkan penelitian yang disebutnya pernah dilakukan di Karawang, tingkat keasaman tanah di sejumlah lahan produksi telah berada di bawah pH 5.
“Kalau kandungan tanahnya memiliki pH sekitar 4, mustahil satu hektare itu bisa mencapai lima ton.
Akhirnya petani merugi,” ujarnya.
Melalui proyek percontohan tersebut, Mardiono berharap pengelolaan tanah dapat diperbaiki sehingga produktivitas meningkat dan petani memperoleh hasil yang lebih baik. Ia menyatakan siap menjadi pendamping bagi kelompok tani yang menjalankan program tersebut.
Berbagai persoalan yang disampaikan petani Bojongsoang menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan luas lahan dan jumlah hasil panen. Ketersediaan air, mesin pertanian, bahan bakar, kondisi tanah, serta perlindungan lahan turut menentukan keberlanjutan produksi.
Mardiono menegaskan, penguatan ketahanan pangan merupakan bagian dari amanat Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita. Menurutnya, ketersediaan pangan yang berkelanjutan menjadi fondasi bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga martabat bangsa.
“Pangan adalah harkat dan martabat sebuah bangsa. Oleh karenanya, ketahanan pangan yang berkelanjutan harus terus kita dukung,” katanya.
(yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran
