Secercah Asa dari Maskot Kota
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
PEKAN Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Tasikmalaya 2026 dinilai menjadi contoh kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam mengakselerasi program prioritas Presiden.
Oleh: Nunung Nurohman
Tak hanya itu, Pekan Ekraf Kota Tasikmalaya 2026 telah berhasil memperkuat identitas lokal melalui produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) RI, Irene Umar mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama pelaku ekonomi kreatif yang mengintegrasikan karakter lokal, termasuk maskot Tata-Titi, ke dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Menurut Irene, penguatan identitas lokal dapat menjadi pembeda produk UMKM Tasikmalaya di tengah banyaknya produk serupa dari berbagai daerah di Indonesia.
"Kita tidak mau hanya sesuatu yang seremonial, yang sekali doang stop. Tapi kita pengin ada sesuatu yang berkelanjutan," ujar Irene saat menghadiri rangkaian Pekan Ekonomi Kreatif Kota Tasikmalaya 2026, Minggu (18/10).
Ia menilai, keberadaan maskot Tata-Titi yang merepresentasikan karakter lokal perlu dimanfaatkan untuk memperkuat daya tarik produk UMKM sekaligus membangun kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya.
Irene menyoroti langkah pelaku ekonomi kreatif yang dengan cepat menangkap peluang untuk mengintegrasikan maskot tersebut ke dalam produk-produk UMKM.
"Kenapa? Kalau kita melihat produk UMKM satu baris dari Indonesia banyak sekali ya. Apa sih pembedanya dengan yang dari Tasik? Tata Titi tersebut, supaya kita menciptakan sesuatu yang hanya Tasik yang punya dan kalian semua bisa berbangga hati," katanya.
Selain penguatan identitas produk, Irene menekankan pentingnya keberlanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pertukaran talenta serta dukungan ekosistem ekonomi kreatif dinilai perlu terus dilakukan agar manfaat program tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
"Dan kedua, masih ada kolaborasi antara pusat dengan daerah, dan begitu juga pertukaran talenta dari yang pusat bisa memberikan ke daerah supaya ini bisa berkelanjutan terus," ucapnya.
Apresiasi juga disampaikan Staf Khusus Presiden RI Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala. Ia menilai sektor ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam membuat program prioritas Presiden lebih dikenal dan dekat dengan masyarakat.
Menurut Tiar, program pemerintah seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan program lainnya membutuhkan pendekatan kreatif agar partisipasi masyarakat semakin luas.
"Dan memang menurut saya peran Ekraf ini sangat penting untuk mengakselerasi supaya bisa lebih masuk kepada masyarakat, jadi lebih dikenal," ujar Tiar.
Ia menyebut, pendekatan melalui kegiatan ekonomi kreatif membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengemas program nasional dengan cara yang lebih menarik dan relevan dengan karakter masyarakat setempat.
Tiar juga menilai konsep kolaborasi tersebut berpeluang diterapkan di kota-kota lain. Namun, keberhasilannya membutuhkan keterbukaan pemerintah daerah dan semangat bersama untuk mengembangkan program.
"Misalkan tadi pertanyaannya terkait dengan apakah mungkin misalkan ini dilakukan di kota-kota lain, tentu sangat mungkin. Dan ini adalah pekerjaan yang kolaboratif. Asalkan pemerintah daerahnya itu memiliki keterbukaan, memiliki semangat yang sama, punya spirit sama-sama ingin berjuang," katanya.
"Saya yakin kita bisa melakukan ini, bisa seperti ini atau mungkin bisa lebih baik daripada yang sekarang kita lakukan," lanjutnya.
Tiar turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang memadukan program CKG dengan identitas lokal dan aktivitas ekonomi kreatif. Menurutnya, pendekatan tersebut menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat sekaligus membuka ruang promosi bagi pelaku UMKM.
Ia mengaku sudah cukup mengenal Kota Tasikmalaya, mulai dari makanan hingga tempat kulinernya. Namun, integrasi layanan CKG dengan karakter lokal menjadi terobosan yang memberikan warna baru bagi kegiatan masyarakat.
"Melihat event ini tentu sangat luar biasa bangganya. Saya sudah lama di Tasik, saya udah familiar dengan makanan, dengan restoran, dengan kopi, tapi ketika ada suatu terobosan terbaru, ada CKG dengan IP lokal, pada konteks ini adalah Miu, ini kan menjadi sebuah warna yang sangat 'wow' buat saya dan apalagi buat masyarakat di sini," ungkapnya.
Menurut Tiar, kegiatan tersebut juga berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi penyelenggaraan. Ramainya pengunjung memberikan peluang bagi pedagang dan pelaku UMKM untuk memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
"Dengan adanya ini, mal ini jadi lebih ramai kan? Kita melihat di sini sangat crowded sekali, tadi kita jalan aja susah. Kanan-kirinya juga banyak dagangan-dagangan, yang otomatis dagangannya juga jadi ikut ramai dong," katanya.
Ia menilai, kolaborasi antara ekonomi kreatif, UMKM, dan program CKG dapat menciptakan pengalaman yang menarik bagi masyarakat sekaligus mendorong transaksi ekonomi di sekitar kegiatan.
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menjelaskan bahwa pengemasan program prioritas Presiden melalui pendekatan kreatif berawal dari gagasan bersama yang melibatkan tokoh asal Kota Tasikmalaya.
Menurut Viman, program strategis nasional perlu dikemas secara lebih kreatif dan menarik agar jangkauannya semakin luas di tengah masyarakat.
"Kita buat kalau program prioritas Presiden ini bisa lebih kreatif, bisa lebih menarik masyarakat, dan bisa lebih sampai ke masyarakat," ujar Viman.
Ia mengatakan, gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi upaya kolaborasi untuk menjadikan penguatan identitas kota sebagai bagian dari agenda pemerintah pusat dan daerah.
Penyelenggaraan CKG dalam rangkaian Pekan Ekonomi Kreatif menjadi salah satu bentuk pengemasan program pemerintah yang dipadukan dengan kegiatan kreatif dan karakter lokal.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Tasikmalaya berharap program prioritas nasional tidak hanya tersampaikan kepada masyarakat, tetapi juga mampu membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM untuk berkembang.
Penguatan identitas melalui Tata-Titi pun diharapkan tidak berhenti sebagai simbol perayaan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya, melainkan berkembang menjadi ciri khas yang melekat pada produk dan aktivitas ekonomi masyarakat. (bsf)
Editor : Inilahkoran
