Simpang Lima Otista Jadi Proyek Awal Penataan Kota Historis Bandung
Pemkot Bandung menjadikan kawasan Simpang Lima hingga Otista sebagai tahap awal penataan kawasan historis dengan konsep Bandung Historical Urban Landscape.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, kawasan Simpang Lima hingga Otista menjadi tahap awal penataan kawasan historis Bandung. Penataan diarancang sebagai satu kawasan terpadu, melalui konsep Bandung Historical Urban Landscape.
Dia mengatakan, penataan kawasan historis tidak bisa dilakukan secara cepat karena membutuhkan rumusan bersama dari berbagai pihak. Konsep matang ditargetkan mulai terbentuk pada 2027.
"Mulai dari Simpang Lima sampai ke Otista. Itu dulu. Itu saja tidak tertata dengan baik. Nanti sayap-sayapnya akan kita libatkan tentunya," kata Farhan, Selasa (6/10/2026).
Dia menyebut, sejumlah ruas jalan masuk dalam sayap kawasan historis. Ruas itu meliputi Jalan Lembong, Jalan Braga, Jalan Cikapundung, Jalan Banceuy, Jalan Dalem Kaum, Jalan Otista hingga Jalan ABC atau Alkateri.
"Sayap-sayapnya di antaranya Jalan Lembong, Jalan Braga, Jalan Cikapundung, Jalan Banceuy, Jalan Dalem Kaum, Jalan Otista dan Jalan ABC (Alkateri), itu kan sayap-sayapnya tuh," ucapnya.
Menurut Farhan, konsep penataan masih dirumuskan bersama akademisi, komunitas, pemerintah dan pelaku bisnis. Masing-masing pihak, memiliki kepentingan yang perlu disatukan dalam pengelolaan kawasan.
"Selama ini pemerintah jalan sendiri, swasta jalan sendiri, komunitas jalan sendiri. Akibatnya keindahan-keindahan itu tidak terintegrasi sebagai sebuah kawasan," ujar dia.
Dia mengatakan, kawasan historis nantinya diarahkan memiliki konsep penataan yang jelas. Pembahasan mencakup bangunan yang dipertahankan, bangunan yang bisa dibongkar dan aktivitas yang diperbolehkan di kawasan.
"Ide awalnya adalah membangun kawasan penataan Kota Historis yang historis, gitu ya. Nah tujuannya itu. Nah mau seperti apa, apa yang mau dipertahankan, apa yang mau dibongkar dan apa yang boleh dipertahankan," tuturnya.
Penataan juga akan berjalan berdampingan dengan aktivitas ekonomi dan komunitas. Farhan memastikan, kegiatan bisnis maupun aktivitas komunitas tetap berjalan selama proses perumusan konsep kawasan.
"Dan untuk sementara ini, masing-masing melakukan pemeliharaan. Kota Bandung bersama dengan BRT akan memastikan, bahwa pemeliharaan jalan dan juga pembangunan infrastruktur transportasi BRT berjalan dengan baik tanpa mengganggu historical site. Itu yang paling penting," ujar dia.
Dia menambahkan, komunitas tetap bisa beraktivitas di sepanjang kawasan historis. Pelaku bisnis juga, dipersilakan menjalankan kegiatan ekonomi sambil menunggu konsep penataan kawasan rampung.
"Kedua pada saat bersamaan, komunitas silakan tetap beraktivitas di sepanjang jalan historis ini. Dan para pelaku bisnis, silakan melakukan kegiatan berbisnisnya dengan baik di daerah situ," jelasnya.
Farhan menegaskan, penataan kawasan historis membutuhkan waktu panjang. Pihaknya belum menetapkan anggaran, maupun target penyelesaian fisik karena tahap saat ini masih berada pada proses penyusunan konsep.
"Nah ini harus betul-betul kita jadikan sebagai benchmark. Makan waktu lama, ya? Iya, sayangnya begitu. Tidak mungkin dalam waktu singkat semuanya bisa selesai," tutur dia.
Dia menargetkan, 2027 menjadi momentum lahirnya konsep matang bagi kawasan historis Bandung. Rumusan itu, nantinya diharapkan menjadi dasar agar perkembangan kawasan tidak berjalan secara terpisah.
"Saya targetkan 2027 baru kita sampai ke konsep yang matang," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

