Siswa Cirebon Diduga Keracunan MBG
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon - Siang itu, anak Donny Armando pulang sekolah seperti biasa. Tak ada keluhan berarti ketika tiba di rumah sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, tiga jam berselang, keadaan berubah. Anak yang semula tampak baik-baik saja mulai muntah-muntah.
Kecemasan Donny pun muncul.
Dia mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya, termasuk makanan yang disantap saat berada di sekolah. Jawaban yang diterimanya mengarah pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi saat jam istirahat, sekitar pukul 09.00 WIB.
“Kata anak saya sih sayur sop, tapi sopnya telur puyuh. Menurut pengakuan anak itu, sayurnya sudah bau,” kata Donny saat ditemui di RS Siloam Putera Bahagia, Kota Cirebon, Selasa (20/10).
Anaknya bukan satu-satunya yang mengalami keluhan. Di rumah sakit itu, Donny melihat orang tua lain datang membawa anak-anak mereka. Sebagian siswa mengalami muntah, sementara lainnya dilaporkan mengalami diare.
Sejak sekitar pukul 18.30 WIB, ambulans hilir mudik membawa siswa untuk mendapatkan penanganan medis. Area rumah sakit dipadati keluarga yang menunggu, sedangkan arus kendaraan di kawasan Perumnas, tepat di depan rumah sakit, mengalami kemacetan.Siswa yang mendapat penanganan medis berasal dari sejumlah sekolah di wilayah Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.
Melihat banyaknya siswa yang berdatangan, Donny memperkirakan jumlahnya telah mencapai lebih dari 50 orang. Angka itu merupakan perkiraannya berdasarkan situasi di lokasi, bukan data resmi rumah sakit.
“Wah, 50 ke atas kali ya, karena di depan sini saja sudah banyak, di lorong sebelah sana juga ada,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Agus Bachtiar. Sekitar pukul 15.45 WIB, dia mendapat kabar, anaknya muntah-muntah. Dia kemudian menanyakan makanan yang dikonsumsi anaknya sebelum keluhan muncul.
“Saya tanya anaknya habis makan apa? Anak saya jawab MBG. MBG-nya kenapa? Enggak enak. Apa yang dimakan? Telur. Telurnya kenapa? Dia jawab asem,” tutur Agus.
Jawaban singkat itu membuat Agus mencari kepastian. Dia menghubungi pihak sekolah untuk mengetahui apakah ada siswa lain yang mengalami kondisi serupa.
Dari komunikasi dengan guru, dia mendapat informasi bahwa sejumlah siswa lain juga mengeluhkan gangguan kesehatan. “Oh iya, Pak, itu juga banyak yang dari SD,” kata Agus menirukan keterangan guru.
Menurut Agus, anaknya mengalami muntah, sedangkan beberapa siswa lainnya disebut mengalami diare. Dia juga mendapat informasi bahwa keluhan serupa dialami siswa dari sekolah lain, termasuk TK Teratai.
Bagi Agus, kondisi tersebut perlu segera ditelusuri. Dia meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan melakukan evaluasi dan pemeriksaan, terutama terhadap menu telur puyuh yang menurut pengakuan sejumlah siswa terasa asam.
Kekhawatiran para orang tua berpusat pada hal sederhana: makanan yang dikonsumsi anak di sekolah semestinya membantu mereka tumbuh sehat, bukan justru membuat mereka harus mendapat penanganan medis.
Program MBG dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi anak. Karena itu, keamanan makanan menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari pelaksanaannya, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga distribusi ke sekolah.
Namun, hingga Selasa petang, penyebab keluhan para siswa belum dapat dipastikan. Belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit, SPPG, maupun instansi terkait mengenai jumlah pasti siswa yang mendapat penanganan ataupun kepastian apakah kejadian tersebut merupakan keracunan makanan.
Pemeriksaan medis dan penelusuran lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Dugaan keterkaitan dengan menu MBG belum dapat dianggap sebagai kesimpulan.
(maman suharman/gin)
Editor : Inilahkoran
