Terjadi Kebakaran di Cagar Alam Mongolia, Perusahaan Jepang Minta Maaf

Perusahaan Jepang minta maaf usai anak perusahaannya membuat kebakaran di cagar alam Mongolia timur.

Terjadi Kebakaran di Cagar Alam Mongolia, Perusahaan Jepang Minta Maaf
Kebakaran di Cagar Alam Mongolia timur.

INILAHKORAN, Bandung - cagar alam yang dilindungi Mongolia timur baru-baru ini Kebakaran karena ulah Perusahaan Jepang.

Perusahaan telekomunikasi raksasa Jepang, KDDI, kini telah meminta maaf atas kebakaran hutan besar yang menghancurkan cagar alam yang dilindungi di Mongolia timur awal bulan Oktober ini.

Kebakaran ini diketahui terjadi setelah anak perusahaannya dilaporkan terlibat dalam kebakaran tersebut.

Kebakaran terjadi pada tanggal 8 Oktober di Kawasan Perlindungan Ketat Numrug di provinsi Dornod, Mongolia timur, dan menyebar ke area padang rumput yang luas.

Api berhasil dikendalikan pada tanggal 12 Oktober dan sepenuhnya padam pada tanggal 16 Oktober, menurut kantor berita pemerintah Mongolia, Montsame News Agency.

KDDI mengatakan Yasuhiro Ochi, kepala anak perusahaannya di Mongolia yaitu Mobicom, beserta dua eksekutif lainnya berada di dalam cagar alam itu ketika insiden tersebut terjadi.

Perusahaan itu mengatakan pihaknya menanggapi dampak besar kebakaran ini terhadap lingkungan alam Mongolia dengan "sangat serius."

Lebih dari 10 orang dan lima kendaraan dari Mobicom memasuki cagar alam itu pada 8 Oktober, termasuk sejumlah warga negara Jepang. Menurut laporan media Mongolia, salah satu kendaraan terbakar dan memicu kebakaran hutan.

KDDI mengatakan para eksekutif Mobicom telah memasuki kawasan lindung dengan kendaraan untuk melakukan uji coba jaringan komunikasi 4G mereka dan telah memperoleh izin resmi untuk memasuki area tersebut. 

Perusahaan itu belum mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang bagaimana kebakaran tersebut dimulai.

Sejumlah outlet media Mongolia mempertanyakan apakah kelompok itu memiliki tujuan lain untuk memasuki cagar alam tersebut, termasuk kemungkinan berburu atau menangkap spesies ikan yang terancam punah. 

Pejabat pemerintah berjanji akan menuntut pertanggungjawaban hukum dan meminta kompensasi atas kerusakan itu, menurut laporan media.

KDDI mengatakan perusahaan itu telah memberi tahu badan keamanan perbatasan sebelumnya dan bahwa pergerakan kelompok tersebut pada hari itu mengikuti rute yang telah ditentukan, seraya menambahkan bahwa pihaknya memahami kunjungan tersebut dimaksudkan untuk pengujian jaringan 4G, tetapi tidak akan berkomentar lebih lanjut sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.***


Editor : Irma Nurfajri