Tingginya Produksi Sampah jadi Alasan Pegiat Sampah di Melong Cimahi Ciptakan Bahan Bakar Petasol

Inovasi Petasol sebagai bahan bakar berbahan dasar sampah kresek disebut-sebut bakal menjadi solusi persoalan sampah yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung mampu dientaskan.

Tingginya Produksi Sampah jadi Alasan Pegiat Sampah di Melong Cimahi Ciptakan Bahan Bakar Petasol
Persoalan tersebut menjadi dasar dua orang inovator pegiat persampahan Bandung Great Sampah & Bank Sumber Daya Sampah Melong 26 Cimahi Lionard Sutandi dan Wahyu Dharmawan untuk menyelesaikan masalah sampah tersebut. (agus satia negara)

INILAHKORAN, CImahi - Inovasi Petasol sebagai bahan bakar berbahan dasar sampah kresek disebut-sebut bakal menjadi solusi persoalan sampah yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung mampu dientaskan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), daftar sampah yang ada di Indonesia paling besar yakni sisa makanan yang mencapai angka 40 persen. Sementara sampah plastik yang dahulu mewakili 10 persen dari total timbunan sampah, saat ini telah mendekati angka 20 persen. Artinya, penggunaan plastik menjadi sangat masif di kalangan masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi dasar dua orang inovator pegiat persampahan Bandung Great Sampah & Bank Sumber Daya Sampah Melong 26 Cimahi Lionard Sutandi dan Wahyu Dharmawan untuk menyelesaikan masalah sampah tersebut.

Keduanya berhasil menciptakan mesin pengolah sampah kresek menjadi bahan bakar bensin yang dinamai Petasol. Tak tanggung-tanggung, dari 1 kilogram sampah kresek mesin tersebut mampu menghasilkan bahan bakar sebanyak sekitar 1 liter bensin.

"Sampah sisa makanan ini bukan sesuatu yang bisa kami proses. Namun, kita akan berkolaborasi dengan Kelurahan Melong untuk mengolah sebagian sampah itu, misalnya sisa kulit buah dan sayuran untuk diproses menjadi Eco Enzyme," kata salah satu inovator Lionard Sutandi, Senin 28 April 2025.

Pria yang akrab disapa Lio menjelaskan, Eco Enzyme itu nantinya membantu sampah-sampah organik dengan aroma tak sedap menjadi tidak berbau.

"Itu semua bisa menjadi besar kalau memang sustain dilakukan dan sesuatu yang paling sustain adalah sampah organik," jelasnya.

Kendati demikian, ungkap Lio, yang menarik justru persoalan sampah plastik dengan presentase atau jumlah yang banyak.

"Dulu plastik hanya mewakili 10 persen dari total timbunan sampah dan sekarang mendekati 20 persen, sudah diangka 19 persen. Artinya, penggunaan plastik menjadi sangat masif di kalangan masyarakat," ungkapnya.

Persoalan sampah jenis ini, terang Lio, plastik memiliki sifat membal, sehingga apabila ditambah barang-barang lain seolah mengembang. Sementara, jika mesin tersebut digunakan untuk sampah non plastik bisa memuat banyak barang.

"Kalau ada sampah plastik jadi gak muat karena mengembang. Tapi terus terang saja ada tata cara bagaimana kita meminimalkan dimensi," terangnya.

Lio menyebut, dari tujuh jenis plastik di Bank Sumber Daya Induk Melong 26, ada empat jenis plastik yang sudah bisa diupayakan untuk diproses.

"Kalau untuk jenis Polyethylene Terephthalate (PET) tidak bisa. Sebenarnya sudah punya sirkular jadi gak perlu diganggu," ucapnya.

Lio mengakui, sampah jenis plastik PVC menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya. Menurutnya, sampah yang satu ini tak bisa diolah lantaran terdapat kandungan klorin.

"Kalau tidak dimasak nanti ada masalah. Terakhir, ada plastic waste from bathing (adus). Pada dasarnya multi layer dimungkinkan dengan catatan ada perlakuan khusus, sehingga nanti kita akan upayakan mengumpulkan multi layer," ujarnya.

"Artinya, tidak akan masuk ke TPA atau TPST, kita beresin dan semua bisa tuntas," imbuhnya. 

Bersama Lurah Melong, Lio berharap pihaknya bisa meningkatkan upaya pengurangan sampah dari 30 persen menjadi 70 persen.

"Jadi target sampah selesai di hulu itu bisa sampai 70 persen. Sisanya, sampai sampah eksisting yang 30 persen kita beresin," ucapnya.

Pada dasarnya, tambah Lio, sampah plastik yang diolah bisa menghasilkan bahan bakar jenis bensin, solar dan minyak tanah.

Namun, berdasarkan kesepakatan sejumlah pihak disesuaikan dengan situasi yang ada, maka untuk bahan bakar jenis bensin ini diproduksi lebih sedikit, selebihnya solar.

"Karena fokus kami segmen tertentu, yakni petani dan nelayan, serta pihak yang memang membutuhkan diesel. Bukan hanya mereka di kami TPS3R beberapa alatnya menggunakan solar," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani