Tingkat Kepuasan Publik Jauh dengan Dedi Mulyadi, Erwan Bicara Soal Pecah Kongsi
Selisih tingkat kepuasan publik antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan dalam survei Indikator Politik Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Selisih tingkat kepuasan publik antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan dalam survei Indikator Politik Indonesia bukan sekadar soal angka.
Di tengah gap hampir 40 persen, Erwan justru menegaskan satu hal, tidak ada rivalitas di dalam kepemimpinan Jabar.
survei tersebut mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Dedi Mulyadi mencapai 95,5 persen, terdiri atas 35,8 persen sangat puas dan 59,7 persen cukup puas. Sementara tingkat kepuasan terhadap Erwan Setiawan berada di angka 55,3 persen, dengan 5,6 persen sangat puas dan 49,7 persen cukup puas.
Alih-alih defensif, Erwan memilih menempatkan diri sebagai wakil yang sadar posisi. Ia menilai, dalam konstruksi pemerintahan, wakil memang bukan untuk melampaui kepala daerah.
"Kan sistem pemerintahan di kita ini, wakil tidak boleh melebihi kepala dan saya tahu diri. Istilah Bahasa Sunda Taktak ulah ngaluhuran sirah (Pundak Tidak Boleh Melebihi Kepala)," ujar Erwan di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin 23 Februari 2026.
Erwan melihat disparitas itu sebagai konsekuensi pembagian kerja. Ia mengakui Dedi lebih dominan di ruang publik, karena intens turun langsung menemui masyarakat, sementara dirinya lebih banyak menjalankan fungsi koordinasi dan administrasi dari kantor.
"Pak Gubernur kan lebih sering di lapangan. Saya di kantor, ya orang pasti jarang melihat aktivitas saya. Pak Gubernur kan langsung dengan masyarakat. Kalau dua-duanya turun semua, bagaimana di kantor. Ya, saya kira wajar, enggak jadi masalah. Yang penting pemerintahan efektif dan berjalan dengan baik," ucapnya.
Baginya, ukuran keberhasilan bukan pada popularitas individu, melainkan soliditas kepemimpinan. Ia menegaskan tidak ada ambisi untuk tampil lebih menonjol atau sejajar secara simbolik dengan gubernur.
"Tujuan utama kita adalah bekerja, tujuannya menyejahterakan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini kan tahun pertama, untuk apa saya lebih dari atau sejajar dengan Pak Gubernur. Emang mau pecah kongsi? Kan enggak. Kami kan satu kesatuan, pemilihan kan satu paket. Silakan masyarakat menilai sendiri seperti apa," katanya.
Di tengah spekulasi soal pembagian peran, Erwan juga membantah adanya pengurangan kewenangan. Ia memastikan pendelegasian berjalan proporsional, termasuk dalam menerima tamu luar negeri.
"Enggak juga (tidak ada pengurangan porsi tugas). Tamu-tamu dari luar negeri saya yang selalu terima. Kan kalau di sini kosong siapa yang akan terima," ujarnya.***
Editor : JakaPermana

