Wali Kota Bandung Farhan Sesalkan Bentrokan di Sukahaji: Jangan Sampai Solusi Jadi Percuma

Wali Kota Bandung, M Farhan menyampaikan rasa prihatin mendalam atas insiden yang melibatkan dua kelompok masyarakat yang berbeda pandangan terkait pengelolaan lahan di wilayah tersebut.

Wali Kota Bandung Farhan Sesalkan Bentrokan di Sukahaji: Jangan Sampai Solusi Jadi Percuma
Wali Kota Bandung Farhan Sesalkan Bentrokan di Sukahaji: Jangan Sampai Solusi Jadi Percuma

INILAHKORAN - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, angkat bicara terkait bentrokan yang terjadi di kawasan Sukahaji. Ia menyampaikan rasa prihatin mendalam atas insiden yang melibatkan dua kelompok masyarakat yang berbeda pandangan terkait pengelolaan lahan di wilayah tersebut.

“Terus terang saya sangat prihatin dan menyesalkan terjadinya bentrokan yang tidak perlu. Padahal, Gubernur dan Wali Kota sudah bersepakat soal pengelolaan kawasan itu. Kalau ada yang tidak setuju, itu sah-sah saja. Kita bukan negara otoriter,” kata Farhan.

Farhan menekankan bahwa perbedaan pendapat tidak semestinya diselesaikan dengan cara kekerasan.

Menurutnya, tindakan bentrok hanya akan menggagalkan berbagai solusi yang telah dirancang pemerintah bersama para pihak terkait.

“Ketika terjadi bentrok, semua solusi yang sudah kita bangun bisa jadi sia-sia. Maka dari itu saya imbau semua pihak yang sedang bersengketa di Sukahaji untuk menahan diri,” ujarnya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan melalui dua jalur utama, yaitu secara hukum dan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Farhan menyebut bahwa konflik ini sebenarnya berakar dari dua narasi utama yang saling bertentangan.

“Narasi pertama adalah soal hak hidup di atas lahan, dan yang kedua adalah dasar hukum atau alas hak tinggal di tanah tersebut. Kedua narasi ini perlu disatukan melalui diskusi. Belum sampai ke ranah hukum pun sebenarnya masih bisa kita selesaikan bersama,” jelasnya.

Farhan menegaskan bahwa pemerintah kota akan berupaya menjadi fasilitator dialog, agar polemik di Sukahaji tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.


Editor : Firda Rachmawati