18 Tahun Pidangan Rumawat Menjaga Budaya Sunda
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
SELAMA 18 tahun, Pidangan Rumawat Padjadjaran konsisten mementaskan budaya Sunda. Upaya ini menjadi bagian dari regenerasi kesenian tradisional di tengah perubahan zaman.
Budaya Sunda tak cukup hanya dikenang, tapi perlu terus dipentaskan, diperkenalkan, dan diberi ruang agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Semangat itulah yang selama 18 tahun dijaga Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui program Pidangan Rumawat Padjadjaran.
Konsistensi tersebut mengantarkan Unpad meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Perguruan Tinggi yang Menyelenggarakan Pagelaran Budaya Sunda secara Berkesinambungan Terlama.
Penghargaan diserahkan oleh Prof Jaya Suprana dan diterima langsung Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad, Prof Ganjar Kurnia, di Museum Rekor Dunia Indonesia, Jakarta, Senin (12/10).
Bagi Ganjar, penghargaan itu bukanlah tujuan akhir. Lebih dari sekadar catatan rekor, Pidangan Rumawat Padjadjaran menjadi bagian dari upaya Unpad menjalankan perannya sebagai pusat pengembangan kebudayaan, khususnya budaya Sunda.
“Penghargaan bukan menjadi tujuan. Justru, yang harus kita lakukan adalah melanjutkan kegiatan ini sesuai dengan misi utama Unpad, yaitu menjadi pusat budaya, khususnya budaya Sunda,” ujar Ganjar, yang juga merupakan Rektor ke-10 Unpad, dalam wawancara dengan Kanal Media Unpad, Selasa (13/10).
Sejak pertama kali digelar pada 2008, Pidangan Rumawat Padjadjaran telah menghadirkan beragam pertunjukan kesenian dan kebudayaan. Sebagian besar mengangkat kesenian Sunda, sementara pertunjukan lainnya merambah musik, teater, hingga diskusi mengenai video pengabdian guru besar.
Musisi Iwan Abdulrachman pernah mengisi panggung Pidangan Rumawat. Begitu pula pertunjukan teater Mastodon dan Burung Kondor.
Pada pagelaran terakhir, kekayaan kuliner tradisional Sunda menjadi tema utama, disampaikan melalui lagu-lagu yang berkaitan dengan beragam makanan khas daerah.
Ragam pertunjukan itu memperlihatkan, kebudayaan tidak harus hadir dalam bentuk yang seragam. Seni dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan tradisi melalui berbagai medium, sekaligus membuka ruang perjumpaan antara warisan masa lalu dan kehidupan masa kini. (gin)
Editor : Inilahkoran
