4 Dekade Merawat Warisan yang Menggenggam Identitas Sunda, Mang Ujang Laip: Aksara Lebih dari Sekadar Tulisan

Yudistira Purana Sakyakirti atau yang akrab disapa Mang Ujang Laip telah lebih dari empat dekade menjadikan dirinya penjaga gerbang aksara Sunda.

4 Dekade Merawat Warisan yang Menggenggam Identitas Sunda, Mang Ujang Laip: Aksara Lebih dari Sekadar Tulisan
Budayawan Sunda asal Cimahi Yudistira Purana Sakyakirti atau yang akrab disapa Mang Ujang

INILAHKORAN.ID - Yudistira Purana Sakyakirti atau yang akrab disapa Mang Ujang Laip telah lebih dari empat dekade menjadikan dirinya penjaga gerbang aksara Sunda.

Bagi Mang Ujang Laip aksara Sunda merupakan sebuah warisan yang bukan sekadar susunan garis dan lengkungan, melainkan cermin jiwa masyarakat yang terjalin dengan alam dan filosofi.
 
Pada tahun 1980-an, ketika impiannya masih mengarah pada bidang kedokteran, sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang ahli sastra Sunda mengubah peta jalan hidupnya sepenuhnya. 

Saat itu, seperti menemukan mata rantai yang hilang dari rantai sejarah, ia menyadari bahwa aksara Sunda menyimpan lebih dari sekadar sistem tulisan.
 
"Saat itu saya menyadari bahwa aksara Sunda bukan hanya sekadar tulisan, melainkan wadah jiwa dan identitas masyarakat Sunda yang mulai terlupakan," kata Mang Ujang Laip, Sabtu 17 Januari 2026.
 
Sejak saat itu, ia menyelami setiap urat nadi aksara Sunda dari bentuk huruf yang elegan hingga aturan tulis yang penuh makna, dari filosofi yang tersembunyi di balik setiap karakter hingga konteks sejarah yang menghidupkannya. 

"Belajar dari para leluhur dan ahli budaya, saya membangun pemahaman yang tidak hanya mendalam, tetapi juga penuh rasa cinta," imbuhnya.
 
Mang Ujang mengaku, dirinya tidak puas menjadi seorang ahli yang hanya menguasai pengetahuan. Ia bergerak, membawa aksara Sunda keluar dari buku-buku dan museum untuk menyentuh kehidupan sehari-hari. 

Setiap bulan, ia menggelar pelatihan dan workshop secara gratis, menjemput anak-anak SD dan SMP di Cimahi serta sekitarnya untuk mengenal huruf-huruf yang dahulu menjadi sarana berkomunikasi nenek moyang mereka.
 
"Tidak cukup hanya mengajarkan cara menulisnya. Kita harus membuatnya hidup," ujarnya sambil menunjukkan berbagai produk kreatif berbasis aksara Sunda, kaligrafi yang menghiasi kanvas, alat tulis yang dihiasi motif huruf yang indah, hingga desain pakaian yang menyatu dengan gaya zaman.
 
Kolaborasinya dengan beberapa sekolah di Jawa Barat bahkan membawa aksara Sunda masuk ke dalam kurikulum lokal, memberikan kesempatan bagi ribuan siswa untuk belajar mengenal warisan budaya mereka sejak dini. 

Tak hanya itu, ia juga telah mendokumentasikan berbagai bentuk tulisan aksara Sunda dari seluruh pelosok Jawa Barat, menyusun buku referensi yang menjadi panduan berharga bagi peneliti dan penggemar budaya.
 
"Kita tidak bisa hanya menyimpan aksara di dalam buku atau museum semata. Ia harus hidup dan berkembang bersama masyarakat," tandasnya. *** 


Editor : Ahmad Sayuti