73,81 Persen Kasus Stunting Terkait Rokok
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Asap rokok mengepul di ruang yang sama ketika seorang balita tumbuh. Bagi keluarga, kebiasaan itu mungkin terasa biasa, tetapi bagi tumbuh kembang anak, paparan asap rokok menjadi salah satu persoalan yang ikut diperhitungkan dalam penanganan stunting di Kota Bandung.
Data Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung menunjukkan, 73,81 persen kasus stunting yang dianalisis berkaitan dengan adanya anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.
Kepala DPPKB Kota Bandung Anhar Hadian mengatakan, perilaku merokok menjadi satu dari 12 faktor determinan yang ditemukan dalam analisis kasus stunting. Kondisi tersebut masih banyak dijumpai pada keluarga yang memiliki anak balita.
“Masih banyak masyarakat, orang tua, ayah atau ibu yang mempunyai anak balita tapi masih merokok di dalam rumah,” kata Anhar Hadian, Rabu (7/10).
Temuan tersebut memperlihatkan, stunting tidak semata-mata berbicara tentang makanan di atas meja. Tumbuh kembang anak juga dipengaruhi lingkungan tempat dia tinggal, kebiasaan orang tua, sanitasi, hingga akses terhadap layanan kesehatan.
Selain kebiasaan merokok, DPPKB menemukan sejumlah faktor lain yang berkaitan dengan stunting. Persoalan sanitasi tercatat mencapai 22,9 persen. Sementara itu, 23,52 persen sasaran yang dianalisis belum memiliki jaminan kesehatan nasional (JKN).
Persoalan kepesertaan JKN juga bersinggungan dengan mobilitas penduduk. Sebagian warga yang tinggal di Kota Bandung belum memiliki KTP Kota Bandung sehingga akses terhadap sejumlah intervensi dapat menghadapi kendala.
“Persoalan kepesertaan JKN juga berkaitan dengan mobilitas penduduk. Sebagian warga yang tinggal di Kota Bandung, belum memiliki KTP Kota Bandung sehingga menyulitkan pemerintah dalam memberikan sejumlah intervensi,” ucapnya.
Di sisi lain, pemenuhan gizi bagi balita dengan masalah gizi masih menghadapi keterbatasan. Pemberian makanan tambahan atau PMT melalui bantuan operasional kesehatan dan APBD baru mampu menjangkau sekitar 20 sampai 30 persen sasaran yang membutuhkan.
Rangkaian persoalan itu membuat penanganan stunting tidak cukup jika hanya bertumpu pada satu sektor. Gizi, perilaku keluarga, sanitasi, akses jaminan kesehatan, hingga kondisi lingkungan perlu ditangani secara bersamaan agar intervensi benar-benar menyasar kebutuhan keluarga.
(yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran

