742 Personel Tangani Karhutla Gunung Ciremai, Sekat Bakar Dibangun
Sebanyak 742 personel gabungan menangani karhutla Gunung Ciremai. Pemadaman difokuskan di zona rimba dan pembangunan sekat bakar untuk melindungi zona inti.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengerahkan 742 personel gabungan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Ciremai. Operasi difokuskan pada pemadaman api di zona rimba serta pembangunan sekat bakar guna mencegah kobaran menjalar ke zona inti.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan, keberhasilan operasi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pemadaman, tetapi juga ketepatan sasaran, koordinasi, dan keselamatan seluruh personel.
Sebelum diterjunkan ke lokasi, ratusan petugas mengikuti apel pengecekan untuk memastikan kesiapan tim, kelengkapan anggota, serta pembagian tugas di lapangan. Setiap ketua kelompok diminta mengetahui identitas dan jumlah personel yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kami mohon tiap-tiap kelompok tahu persis jumlah dan nama-nama anggota kelompoknya. Nanti ada pembagian, jadi ketua kelompok harus tahu persis jumlah dan nama-nama anggota kelompoknya,” kata Herman, Sabtu (24/10/2026).
Herman mengingatkan seluruh personel agar kembali dalam kondisi selamat dengan jumlah anggota yang sama seperti saat diberangkatkan. Karena itu, koordinasi dan disiplin menjadi bagian penting dalam operasi pengendalian karhutla di kawasan konservasi tersebut.
Pengerahan personel ini merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang sehari sebelumnya meninjau langsung penanganan kebakaran bersama bupati setempat. Dedi juga mendampingi relawan dan petugas yang berupaya memadamkan api di lapangan.
Tiga Prinsip Penanganan Karhutla Ciremai
Dalam operasi tersebut, Herman menetapkan tiga prinsip utama, yakni cepat, sistemik, dan akuntabel.
Kecepatan diperlukan untuk membatasi pergerakan api. Pendekatan sistemik memastikan kebutuhan operasional terpenuhi, sedangkan akuntabilitas menjamin setiap tindakan dilakukan berdasarkan sasaran yang jelas.
Ancaman utama saat ini adalah perambatan api dari zona rimba menuju zona inti. Herman menyebut, kobaran sebelumnya bergerak dari zona tradisional ke zona rimba. Pemerintah berupaya menghentikan pergerakan api agar tidak memasuki kawasan yang lebih sensitif.
“Saat ini api ada di zona rimba. Sebelumnya dari zona tradisional naik ke zona rimba. Mudah-mudahan selesai di zona rimba, tidak boleh naik ke zona inti,” ujarnya.
Pemetaan Drone Jadi Acuan Pembangunan Sekat Bakar
Untuk mendukung operasi, petugas mengandalkan pemetaan titik api dan koordinat lokasi berdasarkan hasil pemantauan drone. Data tersebut menjadi acuan dalam menentukan area pemadaman langsung maupun lokasi pembangunan sekat bakar.
Ketepatan penentuan lokasi sekat bakar dinilai krusial. Penyekatan yang tidak sesuai dengan arah pergerakan api berpotensi membuat upaya pengendalian tidak efektif. Karena itu, setiap kelompok diminta bekerja berdasarkan pemetaan yang telah disiapkan.
“Jangan sampai salah sasaran. Kalau api, pasti yang dipadamkan api. Tapi kalau penyekatan nanti salah menyekat, ya akan tidak efektif. Karena itu sudah disiapkan koordinat berdasarkan data hasil drone,” tuturnya.
anak surili Diselamatkan dari Area Terbakar
Selain mencegah api meluas, dampak kebakaran terhadap satwa liar juga menjadi perhatian. Sebelumnya, tim di lapangan mengevakuasi seekor anak surili yang ditemukan di atas pohon saninten yang terbakar hingga mengering.
Anak primata endemik Jawa Barat tersebut kemudian dilepasliarkan kembali ke habitatnya dan dipastikan telah kembali ke induknya.
Penyelamatan itu menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Gunung Ciremai tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencakup perlindungan ekosistem dan satwa liar di kawasan konservasi tersebut.***
Editor : JakaPermana
