INILAHKORAN, Ngamprah - Satuan Tugas Detasemen Khusus Antiteror atau
Densus 88 Polri tengah gencar melakukan sosiasilisasi pencegahan paham intoleransi dan
radikalisme di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Langkah tersebut dilakukan menyusul terjadinya sejumlah aksi
terorisme yang sempat terjadi di penghujung tahun jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
"Aksi ini dilakukan untuk menyebarkan ketakutan masyarakat, khususnya kepada pemeluk agama tertentu. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dibutuhkan untuk menjaga keamanan dari ancaman teror baik sebelum maupun setelah perayaan Nataru," Kanit Idensos Satgaswil Jawa Barat Densus 88 AT Polri, Kompol Satori kepada wartawan.
"Kami mengajak atau keikutsertaan masyarakat untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang, jika mengetahui atau melihat kegiatan yang mencurigakan," sambungnya.
Selain itu, terang Satori, guna menjaga kamtibmas seluruh pimpinan Polri di tingkat daerah juga telah diinstruksikan melakukan sterilisasi lokasi kegiatan pelaksanaan ibadah umat Kristiani dan pengamanan titik-titik keramaian masyarakat saat merayakan tahun baru.
"Kita pastikan umat Kristiani bisa tenang merayakan hari Natal. Kepolisian menjamin rasa aman dan nyaman saat menjalankan ibadahnya," terangnya.
Jawa Barat, sebut Satori, termasuk ke dalam wilayah paling banyak kasus intoleran seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah misalnya Kabupaten Bandung dan Kuningan.
"Akan tetapi potensi ancaman terorisme menjelang Nataru dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan," sebutnya.
Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari upaya Polri yang terus melakukan langkah preventif disamping meningkatkan sinergisitas dengan pemerintah, pemuka agama, dan tokoh masyarakat untuk mencegah penyebaran paham radikalisme.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah, mengganggu ketenangan umat beragama," tuturnya.
Lebih lanjut Satori menerangkan, potensi radikalisme dan terorisme selalu ada, bahkan modus baru aksi teror menargetkan perempuan dan anak menjadi pelakunya. Selain itu, kalangan pelajar atau millenial yang sedang mencari jati diri dan identitas juga menjadi sasarannya.
"Oleh karena itu, kita tidak hanya menyasar masyarakat umum tetapi juga kalangan ibu serta pelajar untuk diberikan pemahanan atau sosialisasi wawasan kebangsaan dan pencegahan radikalisme ini," tandasnya. ***