Anggap MBG Bisnis Akhirat, Pemilik Dapur SPPG Ini Berani Gunakan Jasa Chef Hotel

Program makan bergizi gratis (MBG) yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto banyak dikritik, tetapi ternyata juga banyak masyarakat yang membutuhkannya.

Anggap MBG Bisnis Akhirat, Pemilik Dapur SPPG Ini Berani Gunakan Jasa Chef Hotel
Tak banyak dapur SPPG yang mau dan mampu membayar gaji ahli gizi  dan chef, namun Sintha Dec Checawaty selaku pemilik Yayasan Paramitha Boga Afanti adalah pengecualian. (reza zurifwan)

INILAHKORAN.ID - Program makan bergizi gratis (MBG) yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto banyak dikritik, tetapi ternyata juga banyak masyarakat yang membutuhkannya.

Kualitas dan rasa MBG berbeda-beda, itu semua tergantung pelayanan dari masing-masing dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), 

Apalagi di lapangan ternyata belum semua dapur SPPG memenuhi syarat inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), serta memiliki sertifikat laik higienis sanitasi (SLHS), sertifikasi halal, ISO 22000, HACCP, dan nomor kontrol veteriner (NKV).

Dari 549 dapur SPPG di Kabupaten Bogor, sesuai data Dinas Kesehatan, baru 34 persen yang sudah mengantongi IKL maupun SLHS.

Jika IKL dan sertifikat-sertifikat itu menjamin keamanan konsumsi, untuk memastikan makanan tersebut bergizi dan enak rasa, maka dapur SPPG membutuhkan ahli gizi dan chef atau jurutama masak.

Tak banyak dapur SPPG yang mau dan mampu membayar gaji ahli gizi  dan chef, namun Sintha Dec Checawaty selaku pemilik Yayasan Paramitha Boga Afanti adalah pengecualian.

"Saya rela membayar gaji yang tinggi ahli gizi dan chef yang sebelumnya bekerja di hotel bintang lima, karena ingin memastikan masyarakat yang mengkonsumsi MBG itu sehat dan bahagia" kata Sintha Dec Checawaty kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).

Dia menuturkan, sebagai pengusaha yayasannya pasti mencari keuntungan semaksimal mungkin dalam menjalankan bisnis MBG.

Tetapi, wanita yang juga Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Kabupaten Bogor itu menegaskan, bahwa bisnis MBG juga adalah bisnis 'akhirat', karena ada nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.

"Kami sebagai pengusaha jelas mencari keuntungan dan insentif dari bisnis MBG, tetapi kita jangan lupa bahwa di bisnis ini ada nilai-nilai kemanusiaan. Banyak masyarakat yang kurang mampu, terutama di kampung-kampung, yang rindu akan kehadiran MBG," tuturnya.

Sintha menambahkan, dalam pemilihan menu MBG, dapur SPPG yang dia kelola selalu melibatkan masyarakat penerima manfaat.

"Kepada masyarakat, khususnya siswa-siswi penerima manfaat MBG, saya ajak mereka mengomentari menu masakan MBG hari ini, dan harapan akan menu MBG di hari-hari selanjutnya. Setiap dapur SPPG, itu ragam menu MBGnya berbeda-beda dan kami menyesuaikan dengan para penerima manfaat," tambahnya. 

Dia pun menegaskan, tidak ada yang salah dalam program MBG, masyarakat di beberapa wilayah, terutama di kampung dan desa-desa yang jauh dari kota sangat menginginkan mendapatkan program MBG. 

"Mereka masyarakat yang ada di kampung dan desa, sangat antusias dan bahagia dengan adanya MBG, bahkan kalau sedang libur, mereka berharap tetap mendapatkan MBG," tukasnya.


Editor : Doni Ramdhani