Anggaran Rp15 Miliar, DLH Kota Bandung Bangun RDF TPS Ciwastra Kelola Sampah 50 Ton
Anggaran sekitar Rp15 miliar dikucurkan DLH Kota Bandung untuk merevitalisasi TPS Ciwastra menjadi fasilitas refuse derived fuel (RDF).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Anggaran sekitar Rp15 miliar dikucurkan DLH Kota Bandung untuk merevitalisasi tempat pengolahan sampah (TPS) Ciwastra menjadi fasilitas refuse derived fuel (RDF).
Pembangunan tersebut ditargetkan mampu mengolah hingga 50 ton sampah per hari sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah skala kota.
Kepala DLH Kota Bandung Darto mengatakan, pembangunan RDF di TPS Ciwastra merupakan penggantian teknologi lama yang dinilai sudah tidak lagi layak digunakan. Fasilitas baru itu, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas sekaligus efektivitas pengolahan sampah.
"Di TPS Ciwastra sedang ada pembangunan fasilitas RDF dengan kapasitas 50 ton per hari. Saat ini hanggar atau bangunannya sudah selesai," kata Darto, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, pembangunan tersebut bukan sekadar menambah fasilitas baru. Tetapi juga merevitalisasi teknologi yang sebelumnya telah ada di lokasi tersebut.
"Dulu di sana ada mesin Wisanggeni. Mesin itu sudah tidak digunakan lagi karena teknologinya sudah tidak memadai untuk dilanjutkan. Jadi diputuskan tidak diperbaiki lagi, melainkan diganti dengan teknologi RDF yang kapasitasnya jauh lebih besar," ucapnya.
Darto menjelaskan, anggaran pembangunan fasilitas RDF di TPS Ciwastra mencapai sekitar Rp15 miliar. Nilai tersebut, digunakan pembangunan fasilitas beserta sistem pengolahan yang ditargetkan mampu mengolah sekitar 50 ton sampah setiap hari.
"Anggarannya sekitar Rp15 miliar, meskipun angka pastinya bisa sedikit berbeda. Dengan anggaran tersebut, fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah sekitar 50 ton sampah per hari," ujar dia.
Dia menambahkan, fasilitas RDF Ciwastra merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah skala kota. Berbeda dengan pengolahan sampah di tingkat rumah tangga maupun lingkungan, RDF dirancang menangani volume sampah yang jauh lebih besar.
"Dalam pengelolaan sampah ada beberapa tingkatan, mulai dari skala rumah tangga dengan komposter atau dekomposter, skala lingkungan dengan sistem pengomposan, skala distrik sampai skala kota seperti RDF di Ciwastra. Jadi ini bukan fasilitas khusus untuk pedagang atau warga tertentu, tetapi pengolahan sampah skala kota," jelasnya.
Dengan kapasitas 50 ton per hari kata Darto, fasilitas tersebut nantinya dapat melayani sampah dari satu kecamatan besar atau beberapa kelurahan bergantung pada volume timbulan sampah di wilayah masing-masing.
Selama proses pembangunan berlangsung, pelayanan pengolahan sampah di Ciwastra tidak dihentikan. Sampah yang biasanya masuk ke lokasi tersebut, dialihkan sementara ke fasilitas pengolahan lain.
"Pengolahan sampah tidak berhenti. Selama pembangunan, sampah dialihkan ke dua lokasi terdekat yaitu Rancasari dan Gedebage karena pengolahan di Ciwastra belum optimal," ujar dia.
Pihaknya menargetkan fasilitas RDF TPS Ciwastra, mulai beroperasi pada awal Agustus mendatang. Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, pemerintah berharap kapasitas pengolahan sampah di Kota Bandung meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.
Editor : Doni Ramdhani
