Angkot Listrik Harapan Baru bagi Sopir
ANGKOT listrik digagas sebagai solusi kemacetan di Jawa Barat. Skema kepemilikan kendaraan juga disiapkan untuk meningkatkan kemandirian sopir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kemacetan di Kota Bandung menjadi salah satu alasan perlunya pembenahan transportasi umum. Namun, perubahan sistem angkutan tidak cukup hanya menghadirkan kendaraan yang lebih modern dan ramah lingkungan. Nasib para sopir yang menggantungkan hidup dari angkot juga perlu menjadi bagian dari solusi.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendorong pengembangan angkutan kota (angkot) berbasis listrik sebagai salah satu jalan keluar. Melalui proyek percontohan bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII), angkot tua diharapkan dapat digantikan kendaraan baru yang lebih ramah lingkungan sekaligus dimiliki langsung oleh pengemudinya.
Gagasan tersebut disampaikan Dedi seusai Conference of The ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 di Kota Bandung, Selasa (20/10).
Dia menilai, pembenahan transportasi perlu dirancang bukan hanya dari sisi teknologi, melainkan juga dengan memperhitungkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
“Persoalan ini tidak boleh menghilangkan mata pencaharian para sopir angkutan umum,” ujar Dedi.
Skema kepemilikan kendaraan menjadi salah satu hal yang ingin didorong. Dengan kendaraan yang dimiliki sendiri, sopir diharapkan tidak lagi bergantung kepada pemilik angkot atau harus menyetorkan pendapatan dari operasional kendaraan.
Bagi Dedi, pembaruan angkutan umum harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan pengemudi. Kendaraan baru juga diharapkan menghadirkan pelayanan yang lebih baik, termasuk dengan desain yang ramah anak dan ibu hamil.
“Pertemuan ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana keinsinyuran tidak hanya berkaitan dengan persoalan berskala besar dan global, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan teknis masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Dedi.
Persoalan kemacetan Bandung menjadi gambaran tantangan yang perlu diselesaikan melalui perencanaan transportasi dan tata ruang yang lebih baik. Menurut Dedi, sistem transportasi yang belum tertata turut memperburuk mobilitas masyarakat di sejumlah kota di Jawa Barat.
Karena itu, dia mendorong para insinyur mengambil peran lebih besar dalam merumuskan solusi pembangunan. Keahlian mereka juga dibutuhkan untuk menangani persoalan lingkungan, termasuk banjir yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang tidak tepat. (yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran
