Anomali di Balik Potensi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
DI balik hamparan wilayahnya, Kabupaten Cirebon tersimpan 39 destinasi wisata yang hidup dari perpaduan pesona alam, kehangatan budaya, dan jejak sejarah mendalam.
Oleh : Maman Suharman
Mulai dari gemercik air di Waduk Setupatok hingga ketenangan spiritual di Situs Batu Tulis Huludayeuh, tanah para wali ini menyimpan potensi luar biasa yang siap memikat siapa saja.
Namun, keindahan yang berlimpah ini masih menyimpan tantangan besar.
Hingga pertengahan tahun ini, lorong-lorong wisata Cirebon belum seramai yang diharapkan.
Dari target 1,36 juta wisatawan yang dibidik hingga akhir tahun, baru sekitar 571 ribu pasang mata (42 persen) yang datang berkunjung.
Angka ini menjadi pengingat bahwa ada rindu yang belum tuntas tersampaikan kepada para pelancong di luar sana.
Pemerintah daerah kini tengah berpacu dengan waktu di sisa tahun ini.
Harapan besar diletakkan pada titik-titik keindahan tersembunyi (hidden gem) seperti kawasan Cikalahang di Dukupuntang.
Tempat ini bukan sekadar objek foto, melainkan ruang bagi wisatawan untuk menyatu dengan alam sekaligus meresapi sejarah masa lalu melalui Situ Pajaten.
Cirebon juga masih memiliki keunikan langka seperti Wisata Kura-Kura Belawa di Lemahabang dan eksotisme tebing Batu Lawang di Gempol yang menanti untuk dijelajahi lebih luas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, menyadari bahwa menghidupkan pariwisata tidak bisa dilakukan dengan bekerja sendiri di balik meja. Sebuah destinasi akan benar-benar bernyawa jika digerakkan bersama-sama.
“Wisata itu tidak bisa berdiri sendiri, perlu kolaborasi dengan berbagai dinas dan pemangku kepentingan lainnya untuk bisa optimal dan menarik wisatawan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, potensi wisata Kabupaten Cirebon juga tidak hanya bertumpu pada panorama alam.
Warisan sejarah dan budaya mulai diarahkan menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi.
Pada September 2026, Disbudpar mencatat terdapat sedikitnya 591 objek diduga cagar budaya (ODCB). Dari jumlah tersebut, baru delapan objek yang telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya.
Menurut Fajar, peninggalan sejarah tersebut berpeluang dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis budaya.
“Cagar budaya bukan hanya urusan masa lalu.
Jika dikelola dengan benar, peninggalan sejarah juga bisa menjadi modal untuk membangun wisata berbasis budaya, menghidupkan kawasan bersejarah, sekaligus memperkuat identitas Kabupaten Cirebon,” ujarnya.
Potensi serupa terlihat di Kertawinangun, Kecamatan Kedawung. Tradisi Muludan Tuk dan Situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya mulai didorong menjadi destinasi wisata budaya.
Sekretaris Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Judi Wahjudin bahkan mendorong situs tersebut memperoleh penetapan cagar budaya sebagai dasar perlindungan dan pengembangannya.
Di sisi lain, tantangan pengembangan pariwisata tidak berhenti pada penambahan jumlah destinasi maupun desa wisata. Disbudpar menilai pengelola harus mampu menciptakan aktivitas yang membuat wisatawan benar-benar tertarik datang.
Sedangkan fungsional Bidang Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Kabupaten Cirebon, Yoga Barata Ari Wibowo, mengatakan desa wisata tidak cukup hanya mengejar status administratif.
“Pengelola desa wisata dituntut untuk tidak hanya mengejar status desa wisata, tetapi juga mengembangkan potensi, meningkatkan SDM, serta menghadirkan aktivitas wisata yang atraktif,” kata Yoga.
Sorotan terhadap pengembangan pariwisata juga datang dari DPRD Kabupaten Cirebon. Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon Nurholis meminta Disbudpar berani menentukan destinasi atau potensi wisata yang benar-benar dapat dijadikan ikon Kabupaten Cirebon.
“Dinas ini juga harus berani tampil ke depan menyatakan ada pariwisata Kabupaten Cirebon yang jadi kebanggaan,” pinta Nurholis.
Menurutnya, Kabupaten Cirebon memiliki modal besar berupa seni, budaya dan potensi destinasi. Namun, potensi tersebut membutuhkan pengemasan dan promosi yang lebih kuat agar mempunyai daya tarik di tingkat regional maupun nasional.
“Dengan waktu tersisa hingga akhir tahun, peningkatan kunjungan menjadi pekerjaan rumah Disbudpar.
Ini menjadi PR besar yang harus segera dicarikan jalan keluarnya” pungkasnya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

