Antisipasi Longsor Susulan di Ganjarsari, DPUTR KBB Bakal Pasang Terpal di Sejumlah Titik
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Bandung Barat (DPUPR KBB) mulai melakukan sejumlah langkah cepat untuk menangani dampak bencana banjir dan longsor di Kampung Pangsalatan RT 03/01 Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, KBB.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Bandung Barat (DPUPR KBB) mulai melakukan sejumlah langkah cepat untuk menangani dampak bencana banjir dan longsor di Kampung Pangsalatan RT 03/01 Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, KBB.
Pasalnya, DPUPR KBB menilai potensi ancaman longsor susulan dikhawatirkan terjadi mengingat kontur tanah yang ada di kawasan Ganjarsari tersebut rentan tergerus air yang dikawatirkan terjadi longsor susulan.
"Setelah kita lakukan asesmen di mana hal ini merupakan kewenangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kami (DPUTR KBB) bakal mengupayakan pembukaan akses jalan air di daerah irigasi terlebih dahulu," kata Kepala DPUTR KBB M Ridwan di sela penanganan bencana di Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, Selasa 9 Januari 2024.
Ridwan menjelaskan, pembukaan akses jalan air di daerah ini menjadi prioritas yang harus dilakukan pihaknya mengingat volume air terus meluap dan mengarah ke permukiman warga.
"Intinya, kita fokus dulu penanganan itu karena kebetulan pak Kades Ganjarsari sudah menemukan solusi untuk membuang material longsor," jelasnya.
Selanjutnya, terang Ridwan, pihaknya bakal melakukan estimasi dan selama itu dilakukan pihaknya bakal melakukan penanganan darurat untuk sementara.
"Minimal dari atas lokasi longsor kuta tutup dengan terpal agar ketika hujan kembali turun tidak akan menggerus tanah lagi," terangnya.
"Untuk longsor di Kampung Pangsalatan ini panjangnya 48 meter. Lalu, ketinggian dari titik terendah hingga tertinggi itu 3-14 meter, karena posisinya lereng," sambungnya.
Lebih lanjut Ridwan menuturkan, penutupan titik longsoran juga bakal dilakukan di sejumlah badan jalan, baik jalan desa maupun kabupaten yang mengalami longsor.
"Memang ada beberapa titik longsor yang terjadi di jalan desa dan jalan kabupaten yang tergerus dan itu memang riskan sekali," tuturnya.
Selain itu, sambung Ridwan, pihaknya pun bakal memasang rambu-rambu untuk menandai lokasi yang rawan amblas agar tidak terlindas ban mobil.
"Karena kan bawahnya sudah kosong. Termasuk akan kita batasi tonasenya. Sementara kita akan estimasi dan akan terjunkan tim untuk selanjutnya dilaporkan ke pak Pj Bupati Bandung Barat," ucapnya.
Lebih lanjut Ridwan menerangkan, pihaknya pun bakal berencana untuk membangun tembok penahan tanah (TPT) lantaran jika dibiarkan akan semakin parah.
"Karena ini diprediksi bakal terjadi susulan jika tidak segera ditangani," imbuhnya.
Selain itu, lanjut Ridwan, itu pun harus dibuat rancang bangun rinci atau Detail Engineering Design (DED) lantaran tidak cukup hanya dengan prakiraan teknis saja.
"Kita harus lihat kondisi tanah keras yang ada di bawah. Jadi harus dilakukan bored pile dulu," paparnya.
Namun, tambah Ridwan, pihaknya mendapatkan informasi bahwa lahan yang tertimbun longsor merupakan tanah hak adat atau milik seseorang. Jadi, kalau memakai bronjong bakal memakan lahan yang luas.
"Tapi nanti saya akan pikirkan langkah yang efektif, karena hanya ada dua alternatif, yakni dengan bronjong atau strauss pile," tandasnya. (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani
