Artis Hollywood Dipuji Namun Lisa BLACKPINK Dapat Reaksi Keras Atas Pilihan Fashionnya yang Berani
Lisa BLACKPINK dapat reaksi keras atas pilihan fashion yang berani namun artis Hollywood malah mendapat pujian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Lisa BLACKPINK dinilai sebagai salah satu idola K-Pop yang paling Berani dalam pemilihan pakaian panggung.
Dalam dunia musik pop yang serba cepat, di mana satu pakaian panggung dapat menjadi tren global, Bodysuit telah menjadi simbol penentu mode pertunjukan modern.
Dari korset Jean Paul Gaultier yang ikonik milik Madonna pada tahun 1990-an hingga Beyonce, Taylor Swift, Dua Lipa, dan Ariana Grande, kostum ketat telah berevolusi dari pakaian panggung menjadi simbol kekuatan, kepercayaan diri, dan pemberdayaan perempuan.
Daya tariknya sederhana: ramping, fleksibel, dan menawan, memungkinkan para seniman menampilkan koreografi dinamis sekaligus menonjolkan kekuatan dan sensualitas.
Apa yang awalnya merupakan tren provokatif kini telah menjadi norma industri di dunia hiburan entertainment.
Antara tahun 2023 dan 2025, bodysuit mencapai puncaknya di panggung global. Beyoncé tampil memukau dengan desain Mugler dan Loewe.
Taylor Swift menaklukkan tur dunianya dengan balutan busana bertahtakan kristal, dan Dua Lipa mendefinisikan ulang gaya panggung yang chic dengan potongan-potongan yang berani.
Pakaian-pakaian ini sering dirayakan sebagai perpaduan sempurna antara sensualitas dan kecanggihan, glamor namun tidak vulgar.
Namun, ketika Lisa BLACKPINK mengikuti tren ini, reaksinya jauh lebih keras yangmana fia malah mendapat banyak kritikan.
Selama konser Deadline Tour -nya di Toronto, Lisa BLACKPINK mengenakan bodysuit oranye cerah dengan siluet berpotongan tinggi.
Di bawah cahaya panggung yang terang, desain tersebut memperlihatkan sebagian besar bagian bawah tubuhnya.
Hal ini membuat banyak netizen menyebut pakaian itu "terlalu Terbuka" dan "lebih mirip pakaian renang daripada pakaian panggung."
Sebelumnya, penampilan korset merahnya di AS dan penampilan berani "tanpa celana" di Met Gala 2025 telah memicu beragam opini.
Sementara penonton Barat melihat kepercayaan diri dan seni yang berani, banyak penggemar Asia mengkritik penampilan tersebut karena dianggap terlalu provokatif.
Para analis mode berpendapat bahwa situasi Lisa BLACKPINK lebih mencerminkan kesenjangan budaya, bukan sekadar kesalahan mode.
"Apa yang memberdayakan di Barat bisa terasa tidak nyaman di Timur," ujar seorang penata gaya. "Yang penting bukan apa yang dia kenakan, tetapi bagaimana penonton memandang ekspresi diri perempuan."
Para ahli menekankan bahwa sensualitas dalam mode pertunjukan bukanlah sesuatu yang secara inheren bermasalah, melainkan konteks dan latar belakang budaya yang membentuk reaksinya.
Ikon-ikon pop Barat telah lama dipuji karena mendobrak batasan, sementara seniman Asia sering menghadapi pengawasan yang lebih ketat karena pilihan serupa.
Sebagai duta global untuk berbagai merek mewah dan salah satu ikon mode paling berpengaruh di generasinya, Lisa BLACKPINK telah membangun citra kuat yang memadukan musik, kemewahan, dan individualitas.
Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa busana panggungnya yang semakin terbuka mengalihkan fokus dari seni ke nilai kejutan, terutama mengingat basis penggemarnya yang besar, yang terdiri dari para pengagum muda.
Lisa BLACKPINK belum menanggapi kritik tersebut secara langsung. Namun, kegigihannya dalam berkarya dengan desain-desain berani seolah menjadi deklarasi diam-diam atas kebebasan artistik dan ekspresi diri.
Namun, seiring pernyataan modenya yang berani terus menjadi berita utama, hal itu juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar:
Di mana batas antara ekspresi artistik dan eksposur yang berlebihan? Dan apakah seorang seniman perempuan masih perlu membuktikan kekuatannya melalui seberapa banyak hal yang berani dia ungkapkan?.***
Editor : Irma Nurfajri
